BRIN Dorong ADPIKI Jaga Integritas dan Citra Riset Indonesia

Sedang Trending 1 hari yang lalu
BRIN Dorong ADPIKI Jaga Integritas dan Citra Riset Indonesia Ilustrasi(MI/SUSANTO)

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong asosiasi pekerjaan akademik untuk turut aktif menjaga reputasi ilmiah Indonesia di kancah internasional. BRIN membujuk Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi (ADPIKI) mengambil peran dalam memperkuat integritas riset guna mengantisipasi praktik penelitian fiktif.

Pesan tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Prof. Dr. Eng. Agus Haryono, saat menjadi pembicara dalam Webinar Research Corner ADPIKI berjudul "Sosialisasi Dana Hibah Penelitian BRIN", Jumat (12/6/2026).

Agus menjelaskan, imbauan ini merespons ramainya perbincangan mengenai dugaan riset tiruan mengenai penyakit pneumonia pada forum International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, pertengahan Mei lalu.

Menurutnya, sejauh ini belum ada asosiasi pengajar maupun peneliti di dalam negeri nan memberikan tanggapan resmi alias reaksi kelembagaan atas rumor tersebut.

“Selama ini belum ada asosiasi pengajar dan peneliti memberikan reaksi terhadap hal-hal nan sifatnya negatif nan bisa membikin gambaran negatif pada pengajar dan peneliti,” ujar Agus.

Selain membujuk ADPIKI menjaga gambaran bumi riset, BRIN mengusulkan penguatan posisi peneliti di lingkungan perguruan tinggi. Agus berambisi ADPIKI dapat menjadi inisiator pembentukan skema kepegawaian fungsional peneliti di kampus, mengangkat sistem nan ada di organisasi pemerintah. Dengan skema ini, para akademisi bisa konsentrasi melakukan riset tanpa kehilangan kesempatan untuk tetap mengajar.

Dalam kesempatan tersebut, BRIN juga menyosialisasikan skema pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi nan dapat diakses oleh para pengajar dan peneliti. Hibah ini diberikan kepada lembaga pemerintah maupun non-pemerintah untuk mendukung pencarian kebaruan ilmiah (novelty) nan menghasilkan invensi dan inovasi.

Topik riset nan dibuka cukup luas, mencakup bagian pangan, energi, kesehatan, air, industri strategis, ketahanan sosial, masyarakat, antariksa, hingga nuklir. Agus menambahkan bahwa setiap pengusul dibatasi maksimal mengusulkan tiga proposal, dengan parameter keahlian utama berupa publikasi pada jurnal internasional bereputasi minimal Q3.

Proses penerimaan proposal itu sendiri bakal resmi dibuka sepanjang bulan depan, ialah mulai 1 hingga 31 Juli 2026. Setelah itu, tahapan bakal dilanjutkan dengan proses seleksi administrasi, substansi, serta peninjauan Rencana Anggaran Biaya (RAB) nan dijadwalkan berjalan pada Agustus hingga November, sebelum akhirnya ditutup dengan penetapan SK Penerima pada Desember 2026.

Selain RIIM Kompetisi, BRIN juga membuka hibah skema Start-Up senilai Rp600 juta hingga Rp700 juta dengan masa inkubasi selama dua tahun. Untuk mengawal akuntabilitas program ini, BRIN membuka kesempatan bagi personil ADPIKI untuk terlibat sebagai penelaah (reviewer) proposal.

ADPIKI Berkomitmen Perluas Peluang Pendanaan Riset

Ketua Umum ADPIKI, Dr. Heri Budianto, menyambut baik rayuan BRIN untuk melibatkan para pengajar dan peneliti sebagai reviewer, khususnya untuk memperkuat klaster Ilmu Sosial, Humaniora, dan Pertelevisian.

Heri menegaskan bahwa dalam dua bulan perjalanannya, ADPIKI terus berkomitmen membangun kerjasama dengan BRIN guna meningkatkan kapabilitas para anggotanya melalui aktivitas edukatif seperti webinar.

"Selama ini konsentrasi pembiayaan riset pengajar komunikasi lebih banyak berasal dari hibah Dikti. Dengan adanya kerja sama ini, para pengajar dan peneliti pengetahuan komunikasi sekarang mempunyai pengganti untuk konsentrasi mengakses biaya hibah dari BRIN," pungkas Heri. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia