BRICS: Diam yang Mengandung Strategi dalam Krisis Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu
KTT BRICS pada 7 Juli 2025 di Rio de Janeiro, Brasil. (Foto: Tim Media Prabowo Subianto - Kumparan)

Di tengah eskalasi bentrok antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel, banyak pihak menilai sikap BRICS sebagai pasif, apalagi tidak relevan. Namun pembacaan nan lebih bening justru menunjukkan perihal sebaliknya: sikap “diam” BRICS bukanlah kekosongan posisi, melainkan refleksi dari strategi kolektif nan lebih kompleks—yakni menjaga keseimbangan kepentingan sembari tetap membuka ruang support implisit terhadap Iran sebagai personil dalam konfigurasi BRICS Plus.

Alih-alih terjebak dalam logika blok militer seperti era Perang Dingin, BRICS memilih jalur nan lebih cair, fleksibel, dan berbasis kepentingan jangka panjang. Dalam konteks ini, “ketiadaan bunyi keras” justru dapat dibaca sebagai corak diplomasi senyap nan memberi ruang manuver lebih luas bagi setiap negara anggotanya, tanpa merusak kohesi internal.

Diam sebagai Diplomasi Multi-Arah

Salah satu kritik utama terhadap BRICS adalah absennya sikap kolektif nan tegas dalam merespons bentrok Iran. Namun, pendekatan ini dapat dimaknai sebagai corak diplomasi multi-arah nan menghindari eskalasi lebih lanjut. Dalam lanskap geopolitik nan terfragmentasi, pernyataan keras sering kali justru mempersempit ruang negosiasi.

Negara-negara seperti India, China, dan Rusia mempunyai kepentingan nan berbeda, namun mereka disatukan oleh satu visi: menahan kekuasaan unipolar dan menjaga stabilitas global. Dengan tidak mengeluarkan sikap konfrontatif terhadap Barat, BRICS tetap bisa menjaga jalur komunikasi terbuka dengan semua pihak, termasuk dengan Iran.

Dalam konteks ini, support terhadap Iran tidak selalu kudu diwujudkan dalam corak retorika publik. Dukungan bisa datang dalam corak tindakan strategis—seperti perlindungan jalur perdagangan, penolakan resolusi nan merugikan Iran, alias apalagi pembiaran diplomatik nan memberi ruang bagi Iran untuk memperkuat dalam tekanan internasional.

Dukungan Terselubung dan Politik Kepentingan

Seperti dilaporkan The Jakarta Post dalam tulisan berjudul “War tests BRICS and reveals its limits” oleh Carlos Frederico Pereira da Silva Gama (14 April 2026), sikap BRICS nan tampak pasif justru memungkinkan anggotanya memperoleh untung strategis. China dan Rusia, misalnya, menggunakan posisi mereka di Dewan Keamanan PBB untuk menggagalkan resolusi nan dapat melegitimasi penggunaan kekuatan militer di Selat Hormuz—langkah nan secara tidak langsung menguntungkan Iran.

India di sisi lain mengamankan jalur pelayaran melalui negosiasi langsung dengan Iran. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun tidak ada deklarasi resmi kolektif, negara-negara BRICS tetap memainkan peran krusial dalam mengurangi tekanan terhadap Iran dan mencegah eskalasi bentrok nan lebih luas.

Dukungan seperti ini berkarakter subtil namun efektif. Ia tidak memancing konfrontasi terbuka, tetapi tetap memberikan ruang napas bagi Iran dalam menghadapi tekanan geopolitik dan ekonomi.

Iran dalam BRICS: Jalan Keluar dari Isolasi dan Keuntungan Geopolitik

Masuknya Iran ke dalam BRICS bukan sekadar simbol diplomatik, melainkan bagian dari strategi besar keluar dari isolasi global. Selama bertahun-tahun, Iran berada dalam tekanan hukuman Barat, terutama dari Amerika Serikat. Keanggotaan dalam BRICS membuka kanal pengganti nan sebelumnya tertutup.

Secara geopolitik, Iran memperoleh tiga untung utama. Pertama, akses pada jaringan ekonomi non-Barat nan luas. BRICS mewakili lebih dari 40% populasi bumi dan sekitar seperempat ekonomi global, sehingga menjadi pasar potensial bagi daya Iran serta mitra jual beli baru . Kedua, kesempatan mengurangi ketergantungan pada dolar melalui transaksi mata duit lokal, nan menjadi strategi krusial untuk menghindari tekanan hukuman . Ketiga, peningkatan posisi tawar diplomatik—Iran tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari blok besar nan mendorong tatanan bumi multipolar.

Lebih jauh, BRICS memberi Iran platform untuk menyuarakan kepentingannya di luar sistem internasional nan selama ini didominasi Barat. Dalam konteks konflik, ini berfaedah Iran tidak sepenuhnya terisolasi secara politik. Bahkan jika support tidak muncul dalam corak militer alias deklarasi keras, keberadaan Iran dalam BRICS sudah menjadi “tameng struktural” nan memperkuat daya tahannya.

Situasi ini menjelaskan kenapa Iran aktif mendorong BRICS untuk terlibat dalam konflik—bukan lantaran mengharapkan intervensi militer, tetapi lantaran memahami nilai strategis dari legitimasi politik dan jaringan ekonomi nan ditawarkan oleh blok tersebut.

Dengan pertemuan BRICS berikutnya dijadwalkan berjalan di India pada September alias Oktober, arah pembahasan diperkirakan bakal bergeser dari krisis daya di Asia Barat menuju rumor stagnasi ekonomi global. Pergeseran ini menunjukkan bahwa BRICS tidak mau terjebak dalam respons jangka pendek terhadap konflik, tetapi berupaya membangun agenda nan lebih struktural.

Dalam konteks ini, bentrok Iran justru menjadi ujian kedewasaan BRICS sebagai representasi Global South. Bukan soal seberapa keras mereka bersuara, tetapi seberapa bisa mereka menjaga stabilitas sembari memperkuat posisi kolektif di tengah sistem dunia nan berubah.

Perhatian bumi terhadap Global South pun meningkat, tidak lagi sekadar sebagai objek, tetapi sebagai tokoh nan mulai menentukan arah. Namun ekspektasi terhadap BRICS sekarang menjadi lebih realistis: dia bukan aliansi militer, melainkan platform strategis jangka panjang.

Di sinilah letak kekuatan sekaligus karakter BRICS—ia bekerja dalam senyap, tetapi dampaknya perlahan membentuk ulang peta kekuatan global.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan