Jakarta, CNBC Indonesia - Ibu kota Ukraina, Kyiv, didera gelombang serangan udara besar-besaran oleh Rusia sejak Rabu hingga Kamis waktu setempat. Serangan ini tercatat sebagai serangan drone paling berkepanjangan dan terbesar sejak perang dimulai, di mana tim penyelamat tetap terus berupaya mencari korban nan lenyap di bawah reruntuhan bangunan.
Mengutip laporan dari AFP, Jumat (15/5/2026) otoritas setempat mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Rusia di Kyiv sekarang telah meningkat menjadi 21 orang. Peningkatan jumlah korban jiwa ini terjadi seiring dengan ditemukannya lebih banyak jasad dari kembali puing-puing gedung nan hancur dihantam rudal dan pesawat tak berawak milik Moskow.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa Rusia telah meluncurkan lebih dari 1.560 drone ke wilayah Ukraina sejak Rabu pagi, menjadikannya serangan udara terbesar dalam periode dua hari sejak awal invasi. Selain ribuan drone, Zelensky juga menyebut bahwa 56 rudal tambahan ditembakkan pada Kamis awal hari untuk memperluas skala kerusakan.
"Rusia telah menimbun drone dan rudal selama periode waktu tertentu dan dengan sengaja mengatur waktu serangan untuk memastikan skalanya signifikan serta memberikan tantangan sebesar mungkin bagi pertahanan udara kami," kata Zelensky mengutip laporan dari CNN Internasional.
Di Kyiv, kerusakan paling parah terjadi pada gedung apartemen sembilan lantai di distrik Darnytskyi, di mana setidaknya 16 orang tewas, termasuk seorang gadis berumur 12 tahun. Walikota Kyiv Vitali Klitschko menambahkan bahwa seorang gadis berumur 15 tahun juga termasuk di antara korban tewas, sementara satu laki-laki lainnya meninggal di rumah sakit akibat luka-luka nan dideritanya dalam serangan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar.
Ketegangan di lapangan dirasakan langsung oleh penduduk sipil nan terjebak dalam rentetan ledakan selama sirine serangan udara bersuara selama 11 jam. Salah satu penunggu apartemen, Olena Suntovska nan berumur 38 tahun, menceritakan detik-detik mengerikan saat pintu masuk bangunannya lenyap akibat ledakan.
"Saya mendengar ledakan keras. Saya lari ke dapur dan memandang orang-orang berlarian di halaman, berteriak meminta tolong. Kemudian saya bergegas keluar gedung dan memandang pintu masuk depan sudah hilang. Saya takut-ini sangat membikin stres lantaran saya mengkhawatirkan anak-anak," kata Suntovska.
Kesaksian serupa datang dari penduduk lainnya berjulukan Polina nan berumur 76 tahun, nan terbangun dan mendapati jendela balkonnya hancur berantakan. Ia mengeluhkan minimnya akomodasi perlindungan nan memadai bagi penduduk di sekitar pemukiman mereka.
"Saya tidak pernah membayangkan kerusakannya bakal seburuk ini; ketika saya pergi ke halaman, saya tidak percaya dengan mata saya sendiri. Kami tidak mempunyai tempat perlindungan peledak nan layak di sini. Hanya ada satu di gedung terdekat, bukan di gedung kami, jadi kami tidak turun (ke bawah tanah) ke mana pun," kata Polina.
Walikota Vitali Klitschko menyebut rentetan serangan ini sebagai "serangan skala terbesar musuh terhadap ibu kota" dan secara resmi menetapkan hari berkabung nasional untuk besok hari. Zelensky menegaskan bahwa serangan ini dilakukan Rusia secara terencana dan pihak Ukraina saat ini tengah menyiapkan jawaban atas agresi mematikan tersebut.
Selain di Kyiv, serangan pada Kamis pagi juga menghantam kota Kharkiv nan melukai sedikitnya 28 orang, serta wilayah Odesa nan mencatat dua orang terluka. Gelombang serangan ini juga merusak prasarana daya penting, termasuk gardu induk listrik milik perusahaan DTEK dan jalur kereta api nasional Ukrzaliznytsia.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·