BPS Rilis Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia Tahun 2026 dengan Metode Baru

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Jemaah Haji. Foto: Mohamed Hamam Barakat/Shutterstock

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI) tahun 2026 nan mencapai 83,28. Secara rinci, IKLHI luar negeri tercatat sebesar 82,71 dan IKLHI dalam negeri sebesar 83,85.

Mulai tahun 2026, BPS melakukan penyempurnaan metode penghitungan dari Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) menjadi Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI). IKLHI telah menggunakan pendekatan nan lebih komprehensif dengan mengukur jasa di dalam dan luar negeri, menilai output sekaligus proses layanan, serta disesuaikan dengan izin terbaru penyelenggaraan ibadah haji.

Sementara itu, IKJHI hanya mengukur jasa di luar negeri dan konsentrasi pada hasil layanan. Dikarenakan adanya perbedaan cakupan dan metode, skor IKLHI tidak dapat dibandingkan langsung dengan skor IKJHI.

Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa perubahan metode ini dilakukan untuk pengukuran jasa haji secara lebih komprehensif. Namun demikian, BPS secara unik melakukan backcasting (hitung ulang) untuk skor tahun 2019-2025 agar hasilnya secara konsisten dapat dibandingkan dengan tahun 2026.

“Berdasarkan metode baru, IKLHI Luar Negeri tahun 2026 mencapai 82,71 poin, meningkat dibandingkan 81,46 poin pada tahun 2025,” jelas Amalia pada rilis Survei Kepuasan Layanan dan Kajian Statistik Haji Indonesia 1447 H/2026 M di Jakarta, Kamis (6/8).

Berdasarkan titik kajian di luar negeri, Bandara mencatat indeks kepuasan tertinggi sebesar 84,76, diikuti Makkah (82,59), Madinah (82,53), dan Armuzna (79,70). Meskipun mempunyai indeks terendah, seluruh jenis jasa di Armuzna mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tertinggi terjadi pada jasa konsumsi nan meningkat 4,85 poin, sedangkan jasa petugas menjadi jasa dengan tingkat kepuasan tertinggi di Armuzna dengan indeks 81,91.

Berdasarkan jenis jasa di luar negeri, jasa transportasi memperoleh tingkat kepuasan tertinggi dengan indeks 83,13, diikuti jasa ibadah (82,65) dan jasa konsumsi (82,60). Sementara itu, jasa kesehatan mencatat indeks kepuasan terendah, ialah 81,93. Ditinjau dari aspek proses dan output layanan, transportasi, petugas, akomodasi, dan kesehatan mempunyai nilai indeks output nan lebih tinggi dibandingkan indeks proses.

Selanjutnya, berasas jenis jasa di dalam negeri, jasa transportasi bus menuju airport memperoleh tingkat kepuasan tertinggi dengan skor 85,67, diikuti jasa konsumsi dengan skor 84,95. Layanan nan memperoleh tingkat kepuasan terendah adalah jasa administrasi, keuangan, dan kesehatan haji dengan skor 82,74. Ditinjau dari aspek proses dan output layanan, sebagian besar jasa mendapatkan indeks output sedikit lebih tinggi dibandingkan indeks proses.

Menteri Haji dan Umrah, Muhammad Irfan Yusuf, menyampaikan apresiasi kepada BPS atas beragam info nan disampaikan sehingga bisa menjadi bahan perencanaan dan kajian di Kementerian Haji dan Umrah.

“Tentu ini menjadi tantangan bagi kami (Kemenhaj, red), gimana kita bisa bukan saja mempertahankan tapi juga meningkatkan capaian-capaian ini untuk penyelenggaraan aktivitas berikutnya,” jelas Irfan.

SKLHI Tahun 2026 melibatkan 14.400 jemaah haji nan dipilih secara acak, terdiri atas 1.600 responden di dalam negeri, 6.400 responden pada gelombang pertama di luar negeri, dan 6.400 responden pada gelombang kedua di luar negeri. Pengumpulan info dilakukan di sembilan titik pengamatan, ialah dua titik di dalam negeri (embarkasi dan airport keberangkatan) serta tujuh titik di luar negeri, termasuk bandara, Madinah, Makkah, dan Armuzna. Responden mengisi kuesioner secara mandiri, nan dilengkapi dengan wawancara dan observasi langsung oleh petugas terhadap proses jasa nan diterima jemaah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan