BPOM Soroti Tren Gas Tertawa di Anak Muda: Pengalihan Masalah, Bahayakan Jiwa

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Barang bukti nan diamankan dari kasus peredaran gas N2O di Cengkareng, Jakarta Barat saat konvensi pers di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Kamis (9/4/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengungkapkan penyalahgunaan gas N2O alias gas tertawa banyak dilakukan oleh anak muda. Menurutnya seolah ada tren pada anak-anak muda dalam menggunakan N2O, selain sebagai pengalihan dari masalah.

"Pada umumnya adalah usia-usia ABG dan usia-usia dewasa muda, itu nan menggunakan. Jadi ini ada tren seolah-olah menjadi tren baru dan untuk mengalihkan beragam macam masalah," kata Ikrar di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Kamis (9/4).

Tren semacam ini, kata Ikrar, bukan hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali. Melainkan juga di beragam wilayah di Indonesia.

"Bukan hanya di Jakarta, Bali, Surabaya, Medan, apalagi di Makassar, beberapa kota-kota besar lainnya juga," ungkap Ikrar.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar saat memberikan paparan mengenai peredaran gas N2O di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Kamis (9/4). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Lebih spesifik, Ikrar menyebut penyalahgunaan gas N2O dilakukan di tempat intermezo malam. Penggunaannya, kata Ikrar, dipadukan dengan unsur lain nan tergolong sebagai narkotika.

"Justru pada umumnya (penyalahgunaan gas N2O) di tempat-tempat intermezo malam. Kadang apalagi berpadu bukan hanya ini, dia menggunakan macam-macam, sabu dan sebagainya termasuk penggunaan obat-obat tertentu," jelas Ikrar.

Menurut Ikrar, seakan ada upaya penjualan gas N2O disasar ke anak muda. Dengan banyaknya anak muda nan menggunakannya, kata Ikrar, perihal itu bisa berakibat secara lintas dimensi hingga menakut-nakuti suatu generasi.

"Jadi ini betul-betul bisa bermanifestasi bukan hanya manifestasi kesehatan, manifestasi sosial, dan juga manifestasi hilangnya generasi kita," ujar Ikrar.

Ilustrasi gas tertawa. Foto: Ink Drop/Shutterstock

Oleh lantaran itu, Ikrar mengatakan perlu perhatian unik mengenai penyalahgunaan gas tertawa ini.

"Jadi kami meminta tentu kepada masyarakat khususnya orang tua, keluarga, ataupun guru-guru nan ada di sekolah, ini tren nan kelihatannya tren nan berbahaya, kita kudu buat atensi nan besar untuk memaksimalkan, kita tidak mau kehilangan jiwa apalagi kehilangan generasi masa depan kita," tutur Ikrar.

Selain itu, Ikrar menyebut pihaknya melakukan kerja sama dengan stakeholders lain agar perihal ini menjadi perhatian nasional. Hal nan paling utama, menurutnya, adalah edukasi kepada para anak muda.

"Jadi tentu kita bakal lebih aktif lagi turun ke lapangan tapi kita gandeng stakeholder nan lain termasuk saya kira Badan Narkotika Nasional kita bakal ikut sertakan," sebut Ikrar.

"Jadi kita mau memaksimalkan juga edukasi bahwa penggunaan gas medis ini nan tidak sesuai bisa saja membahayakan kesehatan, tetapi juga bisa membahayakan jiwanya," imbuhnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan