BPH Migas Pastikan Stok BBM Nasional Aman, Pertalite Masih 1,37 Juta Kiloliter

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas, memberikan keteranagn pers di Fuel Terminal Gunungsitoli, Nias, Sumatera Utara, Kamis (15/1). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan ketahanan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional dalam kondisi kondusif per pertengahan Mei 2026.

“Untuk sebagai laporan, stok BBM Nasional per tanggal 18 minggu hari kemarin, bahwasannya kita sangat aman,” ujar Kepala BPH Migas Wahyudi Anas saat Rapat Dengar Pendapat berbareng Komisi XII, di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (19/5).

Berdasarkan info BPH Migas per 18 Mei 2026, stok Pertalite (RON 90) tercatat mencapai 1,37 juta kiloliter (KL) alias setara ketahanan 16 hari. Sementara Pertamax (RON 92) mempunyai stok 561 ribu KL dengan ketahanan 27,8 hari.

Untuk Pertamax Turbo (RON 98), stok nasional mencapai 72 ribu KL dengan ketahanan hingga 61,7 hari.

“Jadi Pertalite pada posisi 16 hari, kemudian RON 92, 27,8 hari, kemudian untuk RON 98, 61,7 hari,” kata Wahyudi.

Stok solar nasional tercatat mencapai 1,57 juta KL alias setara 16,4 hari konsumsi nasional. Sedangkan Pertamina Dex mempunyai ketahanan stok hingga 35 hari.

Sementara untuk avtur, stok nasional berada di level 385 ribu KL dengan ketahanan 26,6 hari. Sedangkan minyak tanah alias kerosene mempunyai stok 16 ribu KL dengan ketahanan sekitar 11,8 hari.

Pengendara motor antre untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di salah satu SPBU di Jakarta, Senin (18/11/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

“Avtur juga 26,6 hari, kemudian untuk kerosene 11,8 hari. Ini sangat aman, continue terjaga di level tersebut,” ungkap Wahyudi.

Meski stok nasional aman, Wahyudi mengungkapkan kuota solar subsidi tetap mengalami defisit secara kumulatif sebesar 50.090 KL sejak 1 April 2026.

“Untuk minyak tanah, alhamdulillah kita tetap surplus kuotanya. Dan kemudian unik untuk minyak solar nan menjadi perhatian, memang kita sejak 1 April ini mengalami minus, dan ini secara kumulatif kita minus 50.090 KL,” ungkap Wahyudi.

Berdasarkan info capaian keahlian BPH Migas 2026, realisasi penyaluran solar subsidi telah mencapai 7,04 juta KL alias 37,8 persen dari kuota 2026 sebesar 18,63 juta KL. Sementara itu, penyaluran Pertalite tetap surplus sebesar 525.646 KL dibanding kuota berjalan.

“Untuk Pertalite, alhamdulillah sangat aman, kita surplus 525.646 KL. Ini krusial dan itu kita cermati bersama,” terang Wahyudi.

Selain ketahanan energi, BPH Migas juga melaporkan perkembangan program BBM Satu Harga di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pada 2026, pemerintah menargetkan 55 lembaga penyalur baru.

“Bahwasanya tahun 2025 kita bakal menargetkan 55 lembaga penyalur. Dan saat ini sudah proses pembangunan serta proses untuk perizinan, sehingga insyaallah kelak akhir tahun bakal tercapai dengan baik,” jelas Wahyudi.

Dengan tambahan itu, jumlah kumulatif lembaga penyalur BBM Satu Harga ditargetkan meningkat menjadi 654 lembaga penyalur hingga akhir 2026, dari realisasi 599 lembaga penyalur pada 2025.

“Dan menambah kumulatif dari jumlah BBM satu nilai nan tercapai sampai 2025, 599 lembaga penyalur bakal meningkat menjadi 654 lembaga penyalur,” kata Wahyudi.

Di sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), BPH Migas mencatat realisasi penerimaan hingga 17 Mei 2026 mencapai Rp 594,42 miliar alias 45,9 persen dari sasaran tahun ini senilai Rp 1,29 triliun.

Sementara itu, realisasi iuran BBM tercatat mencapai Rp 478,83 miliar alias 46,72 persen dari sasaran 2026 sebesar Rp 1,025 triliun. Sedangkan iuran gas bumi telah mencapai Rp 115,57 miliar alias 42,78 persen dari sasaran Rp 270,15 miliar.

“Untuk keahlian kita, gas bumi saya pikir cukup kondusif dan tidak ada masalah. Khusus untuk PNBP, alhamdulillah kita juga progresnya cukup bagus,” tutur Wahyudi.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan