BPBD Dalami Temuan UGM soal Tak Ada Gas Alam di Kasus Kebakaran Rumah Sleman

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, alami 51 kebakaran misterius selama seminggu terakhir. Api membakar sembarang barang nan terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu, Jumat (29/5/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

BPBD Sleman mendalami hasil penemuan peneliti UGM nan menyatakan tidak ada gas alam dalam kasus kebakaran misterius nan terjadi 125 kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.

Peneliti UGM justru menemukan adanya resin poly vinyl chloride alias PVC (bukan PVC pipa paralon) pada residu kebakaran. Menurut UGM, resin ini tidak bisa terbakar sendiri. Harus ada pemantiknya.

"Yes, kita dalami (temuan UGM tersebut). Wait and see, ya," kata Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro dikonfirmasi Minggu (14/6).

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro saat di letak rumah nan puluhan lali kebakaran misterius di Seyegan, Kabupaten Sleman, Selasa (2/6/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Di sisi lain, BPBD Sleman juga tetap menunggu konklusi akhir dari penelitian sejumlah lembaga lain seperti UPN "Veteran" Yogyakarta, BRIN, hingga BPPTKG.

"Tergantung dari beliau-beliau (peneliti) sigap oke, lambat oke (tetap menunggu)," ujarnya.

Di sisi lain, gelombang kebakaran di rumah itu sudah berangsur berkurang. Namun, Bambang tak merinci rata-rata jumlah kemunculan api per hari.

"(Kebakarannya) berkurang," katanya.

Sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, alami 51 kebakaran misterius selama seminggu terakhir. Api membakar sembarang barang nan terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu, Jumat (29/5/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sebelumnya, Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM telah menyimpulkan tidak ada gas alam dalam kasus kebakaran misterius nan terjadi 125 kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.

Dari temuan tim peneliti, api nan membakar material dalam kasus tersebut kemungkinan berasosiasi dengan adanya resin poly vinyl chloride alias PVC (bukan PVC pipa paralon). Resin ditemukan pada residu kebakaran.

"Jadi prinsipnya kami selesai pada tahap bahwa menemukan sumber dari api, sekali lagi bukan gas alami, tapi ada satu materi substans nan ditemukan sebagai residu di tempat terbakar, ialah residu poly vinyl chloride alias PVC. Dan menurut kami itu adalah sumber api nan bukan alami, begitu," kata Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi, di kantornya, Sabtu (13/6).

Sarju mengatakan residu ini berasal suatu nan awalnya mudah terbakar. Lanjutnya, kemungkinan dari awal sesuatu tersebut sifatnya sudah cair.

"Jadi rupa-rupanya, materi ini awalnya adalah sesuatu nan sifatnya bercampur ya, dengan sesuatu pelarut, solvent. Nah, pelarut inilah nan kemudian lepas sebagai nan menghasilkan api. Nah, solvent-nya tertinggal sebagai residu," katanya.

"Nah, terbakarnya solvent itu ada pemantiknya. Nah, kami tidak pada kapabilitas untuk menyampaikan gitu, pemantiknya apa, biar BPBD nan kelak bakal menindaklanjuti," sambungnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan