Kupang -
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat sebanyak 7.968 rumah penduduk mengalami kerusakan hingga Senin (17/8) kemarin akibat gempa dengan magnitudo 7. Selain itu, ada 774 akomodasi umum (fasum) dan prasarana nan rusak.
"Sampai dengan Senin kemarin jumlah rumah nan tercatat mengalami kerusakan ringan hingga berat mencapai 7.968 unit rumah," kata Kepala BPBD NTT Mahadin Sibarani dalam laporannya nan diterima di Kupang, seperti dilansir Antara, Selasa (18/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain rumah warga, lanjutnya, tercatat 744 akomodasi umum (fasum) dan prasarana juga mengalami kerusakan akibat gempa. Angka tersebut tetap merupakan hasil pendataan sementara dan dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.
"Pendataan kerusakan tetap terus dilakukan di kabupaten terdampak. Angka ini merupakan info nan sudah masuk dan diverifikasi sampai pemisah waktu pelaporan," ujarnya.
Berdasarkan laporan nan diterima kerusakan gedung mengalami peningkatan signifikan dibandingkan laporan situasi sebelumnya pada 15 Agustus 2026.
Saat itu BPBD mencatat sebanyak 1.639 rumah rusak. Dalam dua hari jumlah tersebut meningkat menjadi 7.968 unit alias bertambah lebih dari empat kali lipat.
Selain rumah warga, kerusakan juga terjadi pada beragam akomodasi umum dan infrastruktur. Jumlah akomodasi umum dan prasarana nan terdampak meningkat dari 163 unit pada laporan sebelumnya menjadi 744 unit.
Mahadin mengatakan peningkatan jumlah kerusakan tidak terlepas dari proses pendataan nan semakin luas di wilayah terdampak, termasuk Kabupaten Manggarai, Ngada, Nagekeo, dan Sikka.
"Tim di lapangan terus melakukan pendataan dan verifikasi terhadap gedung nan terdampak. Kami mau memastikan info nan diperoleh betul-betul menggambarkan kondisi masyarakat di lapangan," ujarnya.
(idh/yld)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·