Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah dan beragam tantangan dunia mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi industri mebel dan kerajinan nasional. Meski demikian, pelaku upaya menilai situasi saat ini belum dapat langsung disimpulkan bakal berujung pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan potensi tekanan terhadap tenaga kerja tidak bisa diabaikan, mengingat sektor ini menyerap banyak tenaga kerja alias sektor padat karya.
"Terdapat potensi tekanan terhadap tenaga kerja memang ada, lantaran sektor ini padat karya dan sangat berjuntai pada permintaan ekspor global, daya beli domestik, kurs, serta biaya bahan baku. HIMKI mencatat sektor ini menopang jutaan pekerja langsung dan tidak langsung, sehingga setiap perlambatan order bakal sigap terasa di pabrik, terutama UKM dan industri menengah," kata Abdul Sobur kepada CNBC Indonesia, Senin (8/6/2026).
Di tengah beragam tantangan tersebut, HIMKI menilai kondisi industri saat ini tetap berada dalam fase kewaspadaan. Pelaku upaya tetap berupaya menjaga operasional perusahaan sembari menunggu perkembangan permintaan pasar dalam beberapa waktu ke depan.
"Kami tidak mau menyimpulkan terlalu sigap bahwa PHK besar pasti terjadi. Pandangan nan lebih tepat industri saat ini berada dalam fase sangat hati-hati. Perusahaan bakal lebih dulu menahan ekspansi, mengurangi lembur, mengefisienkan produksi, dan menjaga cashflow. " katanya.
Ia menegaskan, PHK merupakan opsi terakhir nan bakal dipilih pelaku upaya andaikan tekanan pasar berjalan dalam waktu panjang.
"PHK biasanya menjadi pilihan paling terakhir jika tekanan order, biaya, dan pasar berjalan panjang," ujar
Di situasi saat ini, penguatan ekosistem industri dinilai menjadi aspek krusial agar industri furnitur nasional bisa memperkuat sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global. Sobur menilai ada beberapa negara nan bisa mengembangkan ekosistem mebel dengan baik.
Selain itu, pengusaha mendorong penguatan daya saing industri melalui ekosistem nan lebih terintegrasi, ialah menempatkan Indowood untuk menguatkan sektor hulu dan IFEX sebagai untuk menuju pasar dunia agar rantai nilai industri dapat melangkah lebih efisien.
"Tiongkok sukses lantaran membangun ekosistem. Vietnam tumbuh sigap lantaran membangun ekosistem. Indonesia kudu melakukan perihal nan sama. Karena itu IFEX bukan sekadar pameran produk dan Indowood bukan sekadar pameran mesin. Keduanya adalah instrumen strategis untuk membangun daya saing industri furnitur Indonesia dari hulu hingga hilir," tegas Abdul Sobur.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·