Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memperingatkan potensi kenaikan nilai peralatan di pusat perbelanjaan pada akhir tahun 2026, andaikan tekanan biaya operasional dan pelemahan nilai tukar rupiah terus berlanjut.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan, saat ini para peritel tetap berupaya menahan kenaikan nilai demi menjaga daya beli masyarakat, khususnya golongan menengah bawah nan menjadi kebanyakan konsumen pusat perbelanjaan.
Namun, kondisi tersebut dinilai tidak bisa berjalan selamanya. Apalagi, biaya operasional nan ditanggung pelaku upaya terus meningkat, mulai dari energi, logistik hingga kembang pinjaman.
"Kalau ini berkepanjangan terus, kami cemas di triwulan IV-2026 para pelaku upaya ritel tidak bisa tidak meningkatkan harga," kata Alphonzus dalam Closing Bell CNBC Indonesia, dikutip Jumat (12/6/2026).
Menurut dia, saat ini peritel tetap terbantu oleh stok peralatan nan dibeli ketika nilai tukar rupiah belum setinggi sekarang. Namun situasinya bakal berbeda saat pelaku upaya mulai melakukan pembelian stok untuk menghadapi periode Natal dan Tahun Baru.
"Sekarang ini teman-teman peritel tetap bisa tidak meningkatkan harga, lantaran stok peralatan itu dibeli pada saat kurs tetap belum setinggi sekarang. Biasanya jika kita mau masuk ke peak season, contohnya ke triwulan empat, Natal dan tahun baru, ini teman-teman peritel biasanya bakal membeli peralatan untuk stok dijual di triwulan empat. Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti harganya kan sudah mahal semua barang-barang," ujarnya.
Kendati demikian, Alphonzus menyebut kenaikan nilai sejauh ini tetap menjadi pilihan terakhir bagi pelaku usaha. Sebab, sektor ritel dan pusat perbelanjaan di Indonesia tetap sangat berjuntai pada konsumen kelas menengah bawah, nan daya belinya belum sepenuhnya pulih.
"Kalau harganya dinaikkan, nilai barang, nilai produk bukannya ini memperparah daya beli masyarakat begitu loh," ucap dia.
Karena itu, APPBI berambisi kondisi ekonomi dan nilai tukar dapat membaik sebelum memasuki kuartal IV-2026, agar tekanan nilai tidak sampai dibebankan kepada konsumen.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·