Ilustrasi.(Magnific)
DUNIA kini tengah menghadapi ancaman angin besar sempurna yang menggabungkan guncangan ekonomi akibat bentrok bersenjata dan kejadian suasana ekstrem.
Para mahir memperingatkan bahwa kombinasi antara kembalinya kejadian El Nino dan gangguan pasokan dunia akibat perang di Timur Tengah dapat memicu krisis kelaparan massal nan belum pernah terjadi pada akhir tahun ini.
El Nino dan Ancaman Gagal Panen Global
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) secara resmi mengumumkan dimulai kondisi El Niño di Pasifik Timur. Fenomena ini diprediksi mempunyai kesempatan 63% untuk menjadi sangat kuat pada musim dingin mendatang. Dampaknya sudah mulai terasa di beragam bagian dunia:
- Somalia: Wilayah Bay nan dulunya merupakan lumbung pangan sekarang mengalami kekeringan hebat. Ironisnya, El Nino juga membawa akibat banjir bandang nan dapat menyapu bersih sisa tanaman di tanah nan sudah gersang.
- Asia Tenggara dan India: Kekeringan ekstrem menakut-nakuti produksi beras, jagung, dan gandum, nan berpotensi mengganggu stabilitas nilai pangan regional.
- Amerika Tengah: Wilayah koridor kering menghadapi akibat kandas panen total bagi petani subsisten, nan dikhawatirkan bakal memicu gelombang migrasi besar-besaran.
Dampak Perang Iran dan Blokade Selat Hormuz
Selain aspek alam, krisis ini diperparah oleh bentrok antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran nan pecah sejak akhir Februari lalu. Penutupan Selat Hormuz menjadi titik kritis lantaran jalur ini mengangkut seperempat perdagangan minyak bumi dan 30% ekspor pupuk global.
Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, menyatakan bahwa lonjakan nilai bahan bakar dan pupuk memaksa petani mengurangi penggunaan input pertanian. Akibatnya, hasil panen diprediksi bakal menurun drastis, sementara biaya operasional mesin pertanian membengkak. Di Sudan, nilai tepung melonjak 47% secara tahunan, sementara di Afghanistan, nilai beras naik lebih dari 30%.
Data Kritis: Famine Early Warning Systems Network memperkirakan antara 115 juta hingga 125 juta orang di 26 negara paling rentan bakal memerlukan support pangan darurat pada Desember mendatang.
Krisis Kemanusiaan di Tengah Pemotongan Anggaran
Ironisnya, di saat kebutuhan support melonjak, pendanaan kemanusiaan internasional justru mengalami penurunan tajam. Data OECD menunjukkan support internasional turun nyaris seperempat antara tahun 2024 dan 2025. Amerika Serikat, sebagai donor terbesar, apalagi memotong anggaran support pembangunannya hingga lebih dari separuh.
World Food Program (WFP) mencatat bahwa biaya pengiriman support sekarang jauh lebih mahal. Akibat penutupan jalur laut utama, kapal pengangkut gandum kudu memutar melalui ujung selatan Afrika, menambah waktu perjalanan selama empat minggu dan jarak tempuh 9.000 mil, nan secara otomatis meningkatkan biaya logistik secara signifikan.
Risiko Instabilitas Politik
Sejarah menunjukkan bahwa krisis pangan sering kali menjadi pemantik kerusuhan sipil. Studi dalam jurnal Nature menyebut bahwa peristiwa El Nino menggandakan probabilitas bentrok sipil baru di wilayah tropis. Jean-Martin Bauer dari WFP menegaskan bahwa bumi tidak hanya menghadapi masalah perut, tetapi juga akibat stabilitas keamanan global.
Tanpa tindakan sigap untuk melindungi wilayah pertanian nan rentan dan meningkatkan support kemanusiaan, bumi berisiko memasuki periode kelaparan ekstrem nan dapat memicu kerusuhan sosial dan ketidakstabilan politik di beragam negara berkembang. (Washington Post/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·