Bos Kriminal Skotlandia yang Ditangkap di Bali Dipulangkan ke Negaranya

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Denpasar -

Steven Lyons (45), buron Interpol asal Inggris dikembalikan ke negaranya setelah ditangkap di Bali. Bos pidana Skotlandia itu dipulangkan dengan pengawalan ketat awal hari tadi.

"Otoritas Indonesia telah menetapkan langkah pendeportasian bagi tersangka. Guna menjamin keamanan maksimal, nan berkepentingan dideportasi dengan pengawalan (escort) pada Rabu awal hari, 8 April 2026," ujar Sekretaris NCB Internasional Indonesia, Brigjen Untung Widiyatmoko, dalam keterangannya, Rabu (8/4/2026).

Brigjen Untung menyampaikan Sekretariat NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri dan otoritas mengenai telah berkoordinasi untuk memastikan pemulangan tersangka ke negara peminta melangkah lancar dan aman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui, Steven Lyons nan merupakan ketua 'Lyons Crime Family' ditangkap saat mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali, pada Sabtu (28/3). Steven Lyons menjadi buruan Interpol setelah namanya masuk dalam daftar Red Notice.

Sebagai informasi, red notice Interpol adalah permintaan internasional kepada penegak norma di seluruh bumi untuk menemukan dan menahan sementara seseorang nan buron, sembari menunggu proses ekstradisi alias tindakan norma serupa. Ini merupakan pemberitahuan (notice) untuk melacak tersangka kejahatan serius nan melarikan diri ke luar negeri.

Brigjen Untung menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kerja sama intelijen dunia yang solid. Penangkapan Steven Lyons merupakan bagian dari "Operasi ARMORUM", sebuah investigasi campuran multinasional nan melibatkan Unit Central Operativa Guardia Civil Spanyol dan Police Scotland. Penangkapan ini membuktikan bahwa wilayah Indonesia bukan tempat persembunyian nan kondusif bagi pelaku kejahatan terorganisir.

"Penangkapan ini bukan sekadar keberhasilan taktis, tetapi juga pesan tegas kepada bumi internasional. Set NCB Interpol Indonesia mengedepankan komitmen pemberantasan Transnational Crime dengan menangkap tersangka DPO internasional subjek Interpol Red Notice. Tidak ada area kondusif di Indonesia bagi buronan Interpol," lanjutnya.

Steven Lyons, bos pidana Skotlandia nan ditangkap di Bali dikembalikan ke negaranya, pada Rabu (8/4/2026) awal hari dengan pengawalan ketat.Steven Lyons, bos pidana Skotlandia nan ditangkap di Bali dikembalikan ke negaranya, pada Rabu (8/4/2026) awal hari dengan pengawalan ketat. Foto: dok. Istimewa

Sosok Steven Lyons

Steven Lyons dikenal sebagai pimpinan tertinggi 'Lyons Crime Family', sebuah organisasi kejahatan transnasional asal Skotlandia nan mendalangi jaringan pencucian duit dan perdagangan narkotika skala besar dari Spanyol ke Inggris Raya.

Melansir BBC, Steven Lyons awalnya memimpin klan Lyons, nan tadinya berbasis di Cumbernauld, North Lanarkshire. Klan ini terlibat dalam perseteruan berdarah selama lebih dari 20 tahun dengan golongan saingannya, Daniel, nan berbasis di Glasgow, Skotlandia. Klan Lyons kemudian dikenal sebagai golongan mafia ternama di sana.

Pada 2006, Steven Lyons selamat dari sebuah penembakan di sebuah kandang mobil di Lambhill, wilayah utara Glasgow, nan merenggut nyawa sepupunya, Michael Lyons. Dia kemudian pindah ke Spanyol sebelum menetap di Dubai, Uni Emirat Arab (UAE).

Pada Mei 2025, kerabat Steven Lyons, Eddie Lyons Jr, dan Ross Monaghan tewas ditembak di sebuah bar tepi pantai di Fuengirola di Costa del Sol.

Kedua laki-laki itu menghabiskan malam dengan menonton final Liga Champions sebelum menjadi sasaran seorang laki-laki bersenjata nan bertindak sendirian.

Pria asal Liverpool, Michael Riley (44), itu dituduh oleh polisi Spanyol sebagai pelaku pembunuhan tersebut.

Ia sempat menantang upaya ekstradisi, tetapi pada Oktober, Crown Prosecution Service mengonfirmasi bahwa dia telah memberikan persetujuan untuk dibawa ke Spanyol guna menghadapi proses hukum.

Dalam beberapa hari setelah penembakan dobel itu, seorang interogator Kepolisian Nasional Spanyol mengatakan tersangka merupakan personil golongan pidana Daniel nan menjadi pesaingnya.

Namun Kepolisian Skotlandia menegaskan tidak ada indikasi bahwa pembunuhan di Spanyol tersebut mengenai dengan perang antar golongan pidana nan tetap berjalan alias bahwa serangan itu direncanakan di Skotlandia.

(mea/dhn)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News