Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan nilai bahan baku plastik bungkusan menjadi tantangan baru bagi Perum Bulog. Meski biaya meningkat, Bulog memastikan perihal itu tidak bakal berakibat pada kenaikan nilai beras di tingkat konsumen.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengakui bungkusan plastik sekarang menjadi persoalan berbareng di industri pangan, termasuk bagi Bulog nan banyak menyalurkan beras dalam corak kemasan.
"Jadi bungkusan ini juga menjadi rumor common enemy (musuh bersama) kami juga istilahnya. Menjadi persoalan bersama, khususnya nan menggunakan plastik-plastik kemasan," kata Rizal dalam konvensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, Bulog telah mengambil sejumlah langkah untuk menekan akibat kenaikan nilai plastik, termasuk penyesuaian kebijakan internal serta koordinasi dengan pemerintah.
"Nah kami kemarin sudah melakukan rapat dewan juga, sudah mengambil kebijakan-kebijakan dan memberikan ruang-ruang khusus, lantaran kondisinya juga memang kudu mengikuti pasar nan ada di daerah. Khususnya kenaikan (harga) bijih plastik nan begitu tinggi. Namun kami juga sudah berkoordinasi kepada Kementerian Perindustrian agar kami diberikan keringanan, lantaran nan kita kemas ini kan banyak produk-produk untuk masyarakat, bantuan-bantuan pangan, beras SPHP dan lain sebagainya," ujarnya.
"Sehingga mudah-mudahan kita diberikan nilai nan terbaik dengan nilai nan paling rendah. Namun tidak mengurangi ataupun menurunkan kualitas dari bungkusan tersebut. Harapannya seperti itu buat demikian," sambung dia.
Meski terjadi kenaikan biaya, Bulog berupaya menahan dampaknya agar tidak membebani nilai jual.
"Ya, jadi kami kemarin sudah rapat direksi. Jadi disesuaikan dengan kondisi seperti itu. Namun dengan nilai nan betul-betul, nan seminimal mungkin untuk menekan agar cost-nya tidak terlalu tinggi," jelasnya.
Rizal menegaskan, sesuai pengarahan Presiden Prabowo Subianto nilai pangan, termasuk beras, tidak bakal dinaikkan.
"Jadi sesuai dengan pengarahan Bapak Presiden. Jadi sudah ditentukan pada saat beliau memimpin rapat di istana kemarin. Tidak ada kenaikan nilai pangan, termasuk nilai beras. Jadi tidak ada kenaikan nilai pangan maupun nilai beras. nan mana kita ketahui berbareng bahwa beras kita dalam posisi nan luar biasa persediaan stoknya. Jadi kami yakinkan tidak ada kenaikan nilai pangan khususnya beras untuk masyarakat Indonesia," tegas Rizal.
BPS Catat Harga Beras Medium Masih Mahal
Di sisi lain, info Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai beras tetap mengalami kenaikan meski tipis. Pada pekan kedua April 2026, nilai beras medium naik 0,22% dibandingkan Maret 2026, dengan rata-rata mencapai Rp14.287 per kilogram (kg).
Sementara itu, nilai beras premium juga naik 0,17% dengan rata-rata Rp16.047 per kg.
Menanggapi perihal tersebut, Rizal menilai kenaikan tersebut relatif kecil, namun tetap menjadi perhatian Bulog.
"Ya, kami sudah melaksanakan rapat-rapat, dari kemarin, hari minggu. Kami sudah rapat evaluasi. Kami rapat mingguan apalagi rapat harian biasanya ada. Terkait adanya rumor kenaikan-kenaikan, memang ada kenaikan inflasi 0,03 persen dari pertimbangan BPS kemarin," ujarnya.
Ia pun mengakui, kenaikan nilai beras turut memberi andil terhadap inflasi, meski dalam skala terbatas.
"Jadi kenaikan beras itu, salah satu penyumbang kenaikan inflasi 0,03 persen," imbuh dia.
Untuk meredam gejolak harga, Bulog telah menyiapkan langkah sigap melalui operasi pasar di wilayah nan terdampak.
"Namun ini kan mini sekali, namun kami sudah perintahkan, antisipasi, langkah, untuk melaksanakan segera operasi pasar di masing-masing wilayah nan mengalami kenaikan," pungkasnya.
Foto: Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani saat konvensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani saat konvensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
(dce)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·