Jakarta, CNBC Indonesia - Sedikitnya sembilan orang tewas dan puluhan lainnya terluka setelah Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke Ukraina dengan menembakkan 656 drone dan 73 rudal dalam semalam, Selasa (2/6/2026) waktu setempat.
Angkatan Udara Ukraina mengatakan Rusia meluncurkan ratusan drone dan puluhan rudal, termasuk rudal balistik nan susah dicegat. Dari total serangan tersebut, Ukraina menyatakan sukses menembak jatuh alias menetralkan 602 drone dan 40 rudal. Serangan tersebut menjadi salah satu nan terbesar sejak perang pecah pada 2022 dan terutama menghantam ibu kota Kyiv serta sejumlah kota besar lainnya.
"Empat puluh rudal dan 602 drone ditembak jatuh alias dinetralisasi, tetapi 38 letak terkena serangan, dengan Kyiv sebagai sasaran utama," kata Angkatan Udara Ukraina dalam pernyataannya, seperti dikutip CBC News.
Di Kyiv, serangan menyebabkan sedikitnya empat orang tewas dan 58 lainnya terluka, termasuk dua anak-anak. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan kota tersebut menjadi sasaran "serangan musuh besar-besaran" nan memicu kebakaran, merusak bangunan, dan menyebabkan gangguan pasokan listrik.
"Ledakan di kota. Pasukan pertahanan udara sedang bekerja! Tetaplah di tempat perlindungan!" ujar Klitschko.
Selain Kyiv, serangan juga menimbulkan korban jiwa di kota Dnipro. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya lima orang tewas dan 25 lainnya terluka. Namun, laporan jasa darurat Ukraina nan dikutip Associated Press menyebut jumlah korban tewas di kota itu mencapai enam orang dan 36 lainnya terluka. Seorang petugas penyelamat juga dilaporkan tewas akibat serangan lanjutan saat tim darurat tiba di lokasi.
Di Kharkiv, sedikitnya 10 orang, termasuk seorang anak, mengalami luka-luka akibat serangan Rusia.
Wartawan AFP melaporkan ledakan terdengar di beragam wilayah Kyiv saat penduduk bergegas menuju tempat perlindungan. Kepulan asap tebal terlihat membumbung dari beberapa titik di pusat kota.
Seorang penduduk Kyiv, Olha Mudra, menggambarkan situasi setelah serangan sebagai kondisi nan kacau. "Kami tidak mengerti apa nan terjadi, semacam kiamat. Semuanya tertutup puing-puing dan asap, Anda tidak bisa memandang apa pun," katanya kepada Reuters.
Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Tymur Tkachenko, mengatakan Rusia menggunakan rudal balistik dalam serangan tersebut. Sementara perusahaan listrik DTEK melaporkan sekitar 140.000 pengguna sempat kehilangan aliran listrik akibat kerusakan infrastruktur.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi telah melakukan "serangan besar-besaran" terhadap sasaran di Ukraina. Moskow menyatakan sasaran utamanya adalah kompleks industri militer Ukraina dan operasi tersebut melibatkan beragam jenis persenjataan, termasuk rudal hipersonik.
Serangan terbaru ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa Rusia sedang mempersiapkan "serangan baru nan besar-besaran". Ia kembali mendesak penduduk untuk mematuhi peringatan serangan udara dan meminta sekutu Barat mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara Patriot guna menghadapi meningkatnya serangan rudal Rusia.
Menurut kajian info Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan rekor 8.150 drone jarak jauh sepanjang Mei lalu, naik 24% dibandingkan April. Meski Ukraina menyatakan bisa mencegat sekitar 90% drone dan rudal nan diluncurkan Rusia selama periode tersebut, intensitas serangan Moskow terus meningkat di tengah kebuntuan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang.
(tfa/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·