Piala Dunia FIFA 2026 nan berjalan di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat kembali menunjukkan bahwa sepak bola tidak pernah sekadar olahraga. Di beragam penjuru dunia, jutaan orang mengikuti pertandingan dengan keterlibatan emosional nan luar biasa. Mereka berteriak-teriak ketika timnya menang, resah ketika pertandingan berjalan ketat, dan kecewa ketika angan kandas di lapangan hijau.
Peristiwa semacam ini menarik lantaran memperlihatkan sesuatu nan sering luput dari perhatian. Bangsa tidak hanya hidup sebagai entitas politik, tetapi juga sebagai pengalaman emosional nan dirasakan bersama.
Ketika tim nasional bertanding, pertandingan itu tidak lagi sekadar urusan sebelas pemain melawan sebelas pemain. Di dalamnya tersimpan nilai diri, harapan, dan kebanggaan kolektif. Kemenangan terasa sebagai kemenangan bersama, sementara kekalahan sering dirasakan sebagai luka nan juga ditanggung bersama.
Menariknya, keterlibatan emosional itu tidak hanya dialami oleh negara-negara peserta. Masyarakat di negara nan tidak mempunyai wakil pun sering ikut larut dalam suasana nan sama. Mereka memilih tim favorit, mengikuti pertandingan hingga larut malam, dan ikut merasakan kegembiraan maupun kekecewaan nan menyertainya. Di era media digital, emosi olahraga bergerak melampaui pemisah negara dan menjadi pengalaman global.
Sepak bola mempunyai keahlian nan jarang dimiliki lembaga sosial lainnya, ialah menciptakan kesamaan emosi dalam skala nan sangat besar. Dalam hitungan detik, jutaan orang dapat mengalami ketegangan nan sama ketika penalti bakal dieksekusi alias merasakan kegembiraan nan sama ketika gol tercipta pada menit-menit akhir pertandingan.
Di sinilah olahraga membantu kita memahami gimana bangsa bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering memandang bangsa melalui konstitusi, wilayah, lembaga negara, alias simbol-simbol resmi. Semua itu memang penting. Namun, bangsa juga hidup melalui pengalaman emosional nan dibagi berbareng oleh para anggotanya.
Sejarawan emosi Barbara Rosenwein (2006) memperkenalkan konsep emotional communities, ialah organisasi nan dipersatukan oleh nilai, norma, dan pengalaman emosional tertentu. Dalam konteks kebangsaan, konsep tersebut membantu menjelaskan kenapa jutaan orang nan tidak saling mengenal dapat merasa terhubung oleh kegembiraan, kecemasan, alias kebanggaan nan sama.
Karena itu, olahraga mempunyai makna nan jauh lebih besar daripada sekadar kompetisi. Ketika sebuah negara berinvestasi dalam olahraga, nan dibangun bukan hanya kesempatan meraih lencana alias trofi. nan juga dibangun adalah sumber-sumber kebanggaan kolektif nan dapat memperkuat ikatan emosional antarwarga.
Hal ini semakin krusial di era global. Dalam beberapa dasawarsa terakhir, kebanggaan nasional sering muncul melalui pencapaian di panggung internasional. Ketika atlet Indonesia meraih prestasi dunia, ketika musisi Indonesia tampil di hadapan publik internasional, alias ketika intelektual Indonesia memperoleh pengakuan global, masyarakat merasakan bahwa keberhasilan tersebut bukan semata-mata milik individu. Ada emosi bahwa Indonesia ikut datang dan diperhitungkan.
Sebaliknya, kegagalan di panggung internasional juga kerap menghadirkan kekecewaan kolektif. Kita merasa kehilangan sesuatu nan sebenarnya tidak kita miliki secara langsung. Namun justru di situlah kekuatan identitas nasional bekerja. Ia membikin keberhasilan dan kegagalan orang lain terasa sebagai keberhasilan dan kegagalan kita bersama.
Rasa kebangsaan lantaran itu dapat diibaratkan seperti balon nan terus mengembang dan mengempis. Ia mengembang ketika bangsa memperoleh prestasi dan pengakuan. Ia mengempis ketika angan tidak terpenuhi. Namun selama tetap ada peristiwa-peristiwa nan membikin masyarakat tertawa, cemas, bangga, alias sedih secara bersama-sama, selama itu pula ikatan kebangsaan bakal terus menemukan energinya.
Mungkin itulah sebabnya sepak bola tidak pernah hanya soal pertandingan. Di kembali bola nan bergulir di lapangan, ada jutaan harapan, kecemasan, kebanggaan, dan kekecewaan nan bergerak bersama. Dari pengalaman emosional semacam itulah rasa kebangsaan terus memperoleh daya untuk hidup.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·