Warga menampung air ke dalam wadah saat penyaluran support air bersih di Desa Jenggrong, Kecamatan Ranuyoso, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (10/7/2026).(Antara)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat langkah mitigasi menghadapi El Nino 2026 nan telah memasuki kategori kuat dan berpotensi berkembang menjadi sangat kuat. Pemerintah memprioritaskan upaya menjaga kesiapan air serta mencegah kebakaran rimba dan lahan (karhutla) seiring prediksi musim kemarau nan lebih kering dan panjang.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kejadian El Nino telah aktif setelah anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik melampaui periode pemisah 0,5 derajat Celsius.
"El Nino itu terjadi ketika suhu di permukaan laut, tepatnya di tengah Samudra Pasifik, naik lebih tinggi dari 0,5 derajat Celsius. Jika sudah melewati pemisah itu, kita mengatakan sudah masuk dalam kondisi El Nino aktif. Nah, untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat. Jadi kita perlu mengantisipasinya," ujar Faisal dalam keterangan resmi, Rabu (29/7).
Menurut BMKG, puncak musim tandus diprakirakan terjadi pada Agustus 2026 nan mencakup 48,84% wilayah musim, kemudian bersambung pada September sebesar 25,41%. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) tetap berada pada fase netral dan diprediksi berubah menjadi positif pada September hingga Desember 2026.
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan kementerian dan lembaga untuk mengantisipasi akibat musim kemarau, terutama menjaga pasokan air dan mencegah karhutla.
Menindaklanjuti pengarahan tersebut, Faisal menyebut terdapat dua konsentrasi utama pemerintah dalam menghadapi musim tandus tahun ini.
"Antisipasi tandus nan berbarengan dengan El Nino di tahun ini ada dua konsentrasi utama. Pertama, mengenai dengan kesiapan air melalui pengisian waduk-waduk dengan metode modifikasi cuaca dan lain sebagainya. Kedua, untuk mengantisipasi kebakaran rimba dan lahan melalui pembasahan pada lahan-lahan nan rentan alias sudah terbakar," katanya.
BMKG memperkirakan akibat karhutla mulai meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Wilayah berisiko tinggi diprediksi meluas, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Lima provinsi menjadi prioritas pengawasan, ialah Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, dan Jambi.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG berbareng kementerian, lembaga, dan pemerintah wilayah memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berbasis info meteorologi, tinggi muka air tanah gambut, dan pemantauan titik panas.
"Kita menjaga agar permukaan air tetap pada kondisi normalnya sehingga gambut tetap jenuh basah dan tidak mudah terbakar," ujar Faisal.
Selain pembasahan lahan gambut, OMC juga diarahkan untuk menjaga kesiapan air di waduk strategis, termasuk di area Danau Toba guna mendukung kebutuhan irigasi, air baku, dan pembangkit listrik tenaga air.
BMKG juga merekomendasikan penguatan patroli dan pemantauan hotspot, peningkatan sistem peringatan awal kualitas udara dan ISPA, percepatan masa tanam sebelum puncak defisit air, serta pengelolaan waduk berbasis prediksi cuaca dan suasana guna meminimalkan akibat El Nino terhadap sektor pangan, kesehatan, energi, dan ekonomi. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·