Kabut aspa karhutla.(Antara)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berbareng sejumlah lembaga memanfaatkan dry ice alias es kering melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengurai kabut asap pekat akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan.
Teknik tersebut menyasar lapisan inversi atmosfer nan menahan asap di dekat permukaan bumi. Intervensi dilakukan terutama ketika kondisi langit kering dan jumlah awan potensial untuk penyemaian hujan terbatas.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan, asap karhutla dalam kondisi tertentu dapat terperangkap di lapisan atmosfer hingga ketinggian 6.000–7.000 kaki, apalagi lebih tinggi, sehingga menghalang penyebarannya.
“Lapisan inversi bertindak seperti tutup nan menghalang pergerakan udara vertikal. Melalui penyemaian dry ice secara jeli dari pesawat di atas lapisan tersebut, kita berupaya menghilangkan tutup inversi ini,” kata Seto dalam keterangan resmi, Selasa (20/10).
Menurut dia, sublimasi dry ice memicu pendinginan dan penurunan suhu secara mendadak. Proses tersebut diharapkan membuka kembali aliran konveksi sehingga asap dapat bergerak naik secara vertikal dan terurai. Intervensi itu juga berpotensi memperbesar kesempatan pertumbuhan awan untuk kemudian disemai.
Seto menegaskan, penggunaan dry ice dalam operasi tersebut berbeda dari penyemaian awan untuk memicu hujan. BMKG menargetkan lapisan inversi nan menahan asap serta mengintervensi lapisan isoterm untuk mengubah kestabilan udara di atmosfer bagian atas.
BMKG mengevaluasi akibat intervensi melalui sejumlah parameter, terutama peningkatan jarak pandang dan penurunan konsentrasi partikel polutan PM2.5. Kedua parameter tersebut digunakan untuk memantau perubahan kondisi atmosfer dan kualitas udara di wilayah terdampak.
Seto menyebut pemantauan selama beberapa hari penyelenggaraan menunjukkan indikasi perbaikan di sejumlah wilayah, termasuk Palembang. Jarak pandang di wilayah tersebut dilaporkan berangsur membaik setelah intervensi dilakukan.
“Astungkara, dalam beberapa hari pelaksanaan, intervensi dry ice menunjukkan indikasi akibat nan cukup baik. Jarak pandang di wilayah terdampak berangsur membaik, seperti nan sempat terjadi di Palembang beberapa hari lalu,” ujarnya.
Perbaikan jarak pandang dinilai krusial untuk mendukung operasi penanggulangan karhutla melalui udara, termasuk pengerahan helikopter water bombing dan pesawat patroli. Kondisi tersebut juga diharapkan membantu aktivitas penerbangan sipil kembali melangkah lebih normal dengan tetap memperhatikan keselamatan penerbangan.
Meski demikian, BMKG tetap memerlukan pemantauan dan kajian info untuk menilai perkembangan akibat operasi secara berkelanjutan. Efektivitas intervensi juga berjuntai pada kondisi atmosfer dan perkembangan kebakaran di lapangan.
Dalam pelaksanaannya, BMKG bekerja sama dengan TNI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertahanan, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). BMKG menyusun strategi intervensi berasas kajian meteorologi, sementara lembaga mengenai mendukung pengerahan armada, koordinasi penanggulangan bencana, pemadaman di darat, serta kajian ilmiah.
Seto menekankan OMC bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi karhutla. Penanganan melalui pemadaman di darat, patroli, penegakan hukum, serta keterlibatan masyarakat dan organisasi nonpemerintah tetap diperlukan.
“OMC bukan satu-satunya upaya untuk menanggulangi karhutla. Pemadaman di darat, patroli, penegakan hukum, serta aktivitas sukarela masyarakat dan NGO juga memegang peranan penting. Semua pihak mempunyai tujuan nan sama, ialah mengakhiri karhutla secepat mungkin,” tegasnya.
BMKG menyatakan bakal terus mengoptimalkan support berbasis kajian atmosfer melalui OMC nan melangkah beriringan dengan upaya pemadaman dan pencegahan di lapangan untuk menekan akibat kabut asap terhadap masyarakat dan aktivitas transportasi. (Ata/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·