Ilustrasi seorang petugas tengah memadamkan lahan nan terbakar(MI/Nurul Hidayah)
MASYARAKAT di Cirebon ialah kota dan kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan dan Indramayu, tengah merasakan suhu panas menyengat dalam beberapa hari terakhir.
“Cukup panas,” tutur Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kertajati, Kabupaten Majalengka, Muhammad Syifaul Fuad, Rabu (21/10).
Dijelaskan Fuad, berasas pengukuran nan dilakukan pada Selasa (20/10), suhu udara maksimum di Jatiwangi mencapai 38,4 celcius. Sedangkan di Kertajati, suhu udara maksimum mencapai 37,4 celcius dan di Penggung 37,0 celcius.
Dijelaskan Fuad, cuaca panas nan dirasakan masyarakat dalam beberapa hari terakhir di antaranya dipengaruhi oleh intensitas penyinaran matahari, kondisi tutupan awan, serta dinamika atmosfer elnino nan berkembang di wilayah Jawa Barat.
“Pada Oktober ini, posisi semu mentari juga berada di selatan garis khatulistiwa. Karena itu, sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, tetap dapat menerima penyinaran mentari nan cukup intens,” tutur Fuad.
Ia menjelaskan saat tutupan awan relatif sedikit, radiasi mentari nan mencapai permukaan bumi menjadi lebih besar. Hal itu menyebabkan suhu udara meningkat, terutama pada siang hingga sore hari.
“Kondisi tersebut dapat terasa lebih menyengat di wilayah dataran rendah dan pesisir, seperti Indramayu serta area terbuka di Majalengka,” jelas Fuad.
Sedangkan untuk wilayah Kabupaten Kuningan kondisi suhu dapat bervariasi. Menurutnya itu sesuai ketinggian wilayah, tutupan vegetasi, dan kondisi cuaca setempat. Selain aspek penyinaran matahari, kondisi atmosfer nan relatif kering dan berkurangnya pembentukan awan hujan di suatu wilayah juga dapat mendukung terjadinya cuaca panas.
Ia menambahkan dinamika suasana skala regional dan dunia seperti El Nino nan sedang berjalan dan turut menjadi aspek nan perlu diperhatikan mengenai suhu panas di Cirebon.
“Cuaca panas di suatu wilayah tidak selalu berfaedah seluruh wilayah sekitarnya mengalami kondisi nan sama. Hujan lokal tetap berpotensi terjadi berjuntai pada perkembangan dinamika atmosfer setempat,” tutur Fuad.
Menghadapi cuaca nan cukup panas di Cirebon saat ini, Fuad mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas berat pada siang hari di bawah terik matahari.
“Menjaga kecukupan cairan tubuh, tidak membakar sampah sembarangan, lantaran bisa menyebabkan kebakaran lahan dan rimba lantaran kondisi cukup kering ranting mudah terbakar,” tutur Fuad.
Fuad juga mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunakan air, serta memantau info prakiraan cuaca dan peringatan awal melalui kanal resmi BMKG.
Fuad pun menambahkan bahwa saat ini wilayah Cirebon bersiap untuk memasuki musim peralihan dan musim hujan. Diperkirakan awal musim hujan di wilayah Cirebon bervariasi mulai November dasarian II hingga Desember dasarian III.
“Masyarakat perlu tetap waspada terhadap perubahan cuaca nan dapat terjadi pada masa peralihan. Termasuk kemungkinan hujan lokal, angin kencang, dan petir,” tutur Fuad.
Termasuk persiapan menghadapi musim penghujan untuk membersihkan lingkungan agar tidak terjadi banjir. BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati bakal terus memantau perkembangan kondisi atmosfer dan menyampaikan info cuaca terkini sebagai dasar kesiapsiagaan masyarakat di wilayah Ciayumajakuning dan sekitarnya.
BMKG bakal terus memantau perkembangan kondisi atmosfer dan suhu udara untuk memberikan info cuaca nan jeli serta mendukung kesiapsiagaan masyarakat di wilayah Jawa Barat.Informasi prakiraan cuaca dan peringatan awal hendaknya dipantau secara berkala melalui kanal resmi BMKG.Aplikasi info BMKG. (H-4)
s
English (US) ·
Indonesian (ID) ·