Ilustrasi Karhutla(Antara Foto)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghadirkan Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Spartan) nan bisa memprediksi tingkat ancaman kebakaran rimba dan lahan (karhutla) hingga tujuh hari ke depan. Sistem tersebut diharapkan menjadi instrumen krusial dalam memperkuat upaya pencegahan dan mitigasi karhutla, terutama menjelang puncak musim kemarau.
Ketua Tim Analisis dan Pengelolaan Citra Satelit dan Deteksi Petir BMKG Alpon Sepriando mengatakan Spartan merupakan sistem peringatan awal berbasis parameter cuaca nan dirancang untuk menilai tingkat ancaman karhutla dan potensi penyebaran api andaikan kebakaran terjadi.
"Spartan merupakan sistem peringatan awal kebakaran rimba dan lahan berbasis parameter cuaca nan digunakan untuk menilai tingkat ancaman kebakaran. Prediksinya tersedia hingga tujuh hari ke depan," kata Alpon dalam sosialisasi Spartan, Selasa (23/6).
Menurut dia, sistem tersebut bekerja secara otomatis dengan mengolah info cuaca nan mencakup kecepatan angin, kelembapan udara, curah hujan, dan suhu udara.
Hasil pengolahan info kemudian diterjemahkan ke dalam enam indeks nan menggambarkan kondisi bahan bakar, potensi penyebaran api, dan tingkat intensitas kebakaran. Enam indeks tersebut meliputi Fine Fuel Moisture Code (FFMC), Duff Moisture Code (DMC), Drought Code (DC), Initial Spread Index (ISI), Build Up Index (BUI), dan Fire Weather Index (FWI).
Alpon menjelaskan FFMC digunakan untuk mengukur tingkat kekeringan bahan bakar ringan di permukaan seperti rumput kering, serasah, dan daun-daunan. DMC menggambarkan kondisi lapisan organik pada kedalaman menengah, sedangkan DC menunjukkan tingkat kekeringan lapisan tanah nan lebih dalam dan sering digunakan untuk memantau kerentanan lahan gambut terhadap kebakaran.
Sementara itu, ISI menunjukkan tingkat kemudahan penyebaran api nan sangat dipengaruhi oleh kecepatan angin. Adapun BUI menggambarkan kesiapan bahan bakar kering, sedangkan FWI menjadi parameter utama nan menunjukkan tingkat ancaman kebakaran secara keseluruhan.
"Fire Weather Index menunjukkan intensitas api jika terjadi kebakaran. Semakin tinggi nilainya, semakin susah kebakaran untuk dikendalikan," ujarnya.
Alpon menegaskan bahwa info nan ditampilkan Spartan bukan menunjukkan letak kebakaran, melainkan potensi dan tingkat akibat berasas kondisi cuaca. Karena itu, interpretasi info tetap kudu mempertimbangkan keberadaan vegetasi sebagai bahan bakar serta aspek penyulut api. Menurut dia, info prediksi hingga tujuh hari ke depan dapat dimanfaatkan pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, serta pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan sebelum kebakaran terjadi.
"Informasi ini dapat digunakan untuk mendukung upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi karhutla secara lebih efektif serta mendukung pengambilan keputusan operasional di lapangan," katanya.
BMKG menyediakan jasa Spartan melalui portal spartan.bmkg.go.id dalam dua pilihan, ialah jenis interaktif dan jenis statis. Pengguna dapat memantau kondisi wilayah Indonesia maupun ASEAN serta memilih indeks nan mau dianalisis sesuai kebutuhan. Dengan keahlian prediksi hingga sepekan ke depan, ujar dia, Spartan diharapkan dapat menjadi salah satu perangkat utama dalam mendeteksi peningkatan akibat karhutla lebih awal sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·