BMKG mengidentifikasi 402 segmen sesar aktif di Indonesia.(Dok. Antara)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi sekitar 402 segmen sesar aktif di Indonesia nan berpotensi menjadi sumber gempa bumi. Meski demikian, jumlah tersebut diyakini belum mencakup seluruh sumber ancaman lantaran tetap banyak segmen nan belum terpetakan secara menyeluruh.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa identifikasi sesar aktif merupakan langkah krusial untuk memperkuat pemahaman mengenai akibat kegempaan di tanah air. Hal itu disampaikannya dalam Forum Diskusi Denpasar 12 pada Rabu (26/8/2026).
“Ini sudah teridentifikasi sekitar 400 buah segmen aktif. Tentunya 400 buah itu baru nan teridentifikasi, tetap banyak lagi segmen aktif nan belum teridentifikasi,” ujar Wijayanto.
Menurut Wijayanto, pemetaan sumber gempa nan dilakukan Pusat Studi Gempa Nasional tidak hanya berfokus pada area megathrust di pesisir, tetapi juga mencakup sesar aktif di daratan. Sesar aktif di daratan perlu diwaspadai lantaran aktivitasnya dapat memicu akibat langsung nan merusak bagi wilayah pemukiman di sekitarnya.
Tingginya aktivitas kegempaan di Indonesia disebabkan oleh posisi geografis nan berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dunia, ialah Eurasia, Australia, Pasifik, dan Filipina. Kondisi pengetahuan bumi inilah nan membikin nyaris seluruh wilayah Indonesia mempunyai kerentanan tinggi.
Berdasarkan info BMKG, sepanjang tahun 2025 tercatat sekitar 43 ribu kejadian gempa bumi di Indonesia dengan beragam magnitudo dan kedalaman. Dari puluhan ribu kejadian tersebut, sebanyak 25 gempa dilaporkan menimbulkan kerusakan gedung dan infrastruktur.
Wijayanto menekankan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada rumor megathrust. Potensi gempa dari sesar darat juga sangat nyata dan memerlukan kesiapsiagaan nan sama. Pemetaan nan lebih jeli diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah dan masyarakat dalam menyusun langkah mitigasi dan pengurangan akibat bencana.
“Gempa bisa terjadi di mana saja, di seluruh Indonesia,” pungkasnya menegaskan pentingnya kewaspadaan berkelanjutan. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·