Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyakini, rangkaian gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 di Laut Sulawesi nan disusul tsunami skala mikro dipicu oleh aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina dan bukan berasal dari area megathrust.
Menurut Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto, berasas kajian info dari Pusat Gempa Nasional, karakter sumber gempa itu berada di area subduksi aktif Laut Filipina.
"Jadi, memang untuk info dari Pusat Gempa Nasional, wilayah Laut Filipina itu sudah tidak masuk lagi dalam area megathrust, jadi ini adalah area subduksi," ujar Wijayanto dalam konvensi pers di Jakarta, Senin (8/6/2026) melansir Antara.
Dia melanjutkan, meski pun berasal dari area subduksi non-megathrust, BMKG menyatakan kekuatan gempa nan besar tersebut tetap memicu deformasi batuan bawah laut nan berpotensi tsunami.
"Hingga pukul 08.20 WIB, stasiun pemantau mencatat ketinggian tsunami berkisar 9 - 75 sentimeter di sejumlah wilayah, di antaranya Desa Tanjung Sidupa, Boolang Mongondow Utara dan Desa Talengen Kepulauan Sangihe," ucap Wijayanto.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·