BMKG mengungkapkan gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo nan mengguncang Pantai Selatan Mindanao, Filipina, terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng memicu peringatan awal tsunami di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan gempa tersebut merupakan gempa bumi dangkal nan dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng. Hasil kajian juga menunjukkan sistem sumber gempa berupa pergerakan naik alias thrust fault.
"Dengan memperhatikan letak episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi nan terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng. Hasil kajian sistem sumber menunjukkan bahwa gempa bumi mempunyai sistem pergerakan naik alias thrust fault," kata Faisal saat konvensi pers di Kantor BMKG, Jakarta, Senin (8/6).
Faisal menjelaskan, guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah dengan tingkat intensitas nan berbeda-beda.
“Dampak Guncangan (Skala Intensitas) Gempa bumi ini dirasakan di beragam wilayah,” ujarnya.
Adapun wilayah nan merasakan guncangan gempa antara lain:
Skala IV MMI (dirasakan orang banyak dalam rumah, gerabah pecah, jendela alias pintu berderik):
Kota Morotai
Halmahera Utara
Skala III-IV MMI:
Kabupaten Gorontalo Utara
Skala III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa seperti truk berlalu):
Batang Dua, Ternate
Halmahera Barat
Gorontalo
Halmahera Selatan
Halmahera Timur
Parigi Moutong
Manado
Minahasa
Palu
Bitung
Bolaang Mongondow Timur (Boltim)
Halmahera Tengah
Meski guncangan dirasakan hingga sejumlah wilayah di Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo, BMKG menyatakan belum menerima laporan mengenai kerusakan gedung maupun korban akibat peristiwa tersebut.
"Hingga saat ini belum ada laporan akibat kerusakan nan ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut," ujar Faisal.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·