Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan kesiapan pemerintah menghadapi kejadian suasana El Nino nan bakal melanda Indonesia. Termasuk, langkah mitigasi dan koordinasi antarinstansi.
Hal itu disampaikan Sekretaris Utama BMKG Guswanto dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Antisipasi Fenomena El Nino nan diselenggarakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2026). Untuk memperkuat kesiapsiagaan lintas sektor dan lintas wilayah dalam menghadapi potensi akibat anomali iklim, khususnya nan berpotensi meningkatkan akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) pada musim tandus 2026.
Dalam rapat itu, Guswanto memaparkan perkembangan kondisi suasana global. Dia kondisi suasana dunia saat ini tetap berada pada fase ENSO netral hingga pertengahan tahun 2026.
"Namun, hasil kajian BMKG pada akhir Maret 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester II tahun 2026, dengan kesempatan berkisar antara 50 hingga 80 persen," kata Guswanto dalam keterangan di situs resmi, dikutip Kamis (16/4/2026).
"Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi musim tandus 2026 nan diprediksi datang lebih awal dan berjalan lebih panjang dibandingkan kondisi normal," tambahnya.
BMKG mencatat, per Dasarian I 2026, sebanyak 7,8% wilayah Indonesia (55 Zona Musim/ ZOM) telah mengalami Musim Kemarau.
ZOM nan diprediksi bakal masuk musim tandus pada periode Dasarian II April hingga Dasarian I Mei 2026 adalah sebagian mini Jambi, sebagian mini Sumatra Selatan, sebagian Lampung, sebagian Banten, sebagian Jakarta, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian NTT, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian mini Sulawesi Selatan dan sebagian mini Maluku.
Di sisi lain, Guswanto menyoroti penggunaan istilah "El Nino Godzilla" nan belakangan ramai. Kata dia, istilah itu bukan merupakan terminologi resmi dalam pengetahuan klimatologi maupun dalam komunikasi publik.
"Dalam penyampaian info kepada masyarakat, BMKG senantiasa menggunakan istilah serta hasil kajian ilmiah berbasis info untuk menggambarkan kondisi dan potensi perkembangan suasana secara akurat, objektif, dan bertanggung jawab," tegas Guswanto.
Siap Siaga Karhutla
Sementara, Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo nan memimpin rapat tersebut mengingatkan pentingnya kerjasama lintas sektor dalam menghadapi potensi karhutla.
"Kami meminta seluruh jejeran di wilayah menjalin kerja sama dengan lembaga terkait. Libatkan semua elemen, mulai dari dinas, relawan, hingga akademisi, untuk memperkuat penanganan di lapangan," kata Dedi.
Apa itu El Nino dan apa akibat ke Indonesia?
Mengacu situs resmi BMKG, ENSO adalah anomali pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru nan lebih tinggi daripada rata-rata normalnya.
Disebutkan, suasana di Samudra Pasifik terbagi ke dalam 3 fase. Yaitu, El Nino, La Nina, dan Netral.
Pada fase Netral, angin pasat berdesir dari timur ke arah barat melintasi Samudra Pasifik menghasilkan arus laut nan juga mengarah ke barat dan disebut dengan Sirkulasi Walker. Suhu muka laut di barat Pasifik bakal selalu lebih hangat dari bagian timur Pasifik.
Sementara saat fase El Nino, angin pasat nan biasa berdesir dari timur ke barat melemah alias apalagi berbalik arah. Pelemahan ini dikaitkan dengan meluasnya suhu muka laut nan hangat di timur dan tengah Pasifik. Air hangat nan bergeser ke timur menyebabkan penguapan, awan, dan hujan pun ikut bergeser menjauh dari Indonesia. Hal ini berfaedah Indonesia mengalami peningkatan akibat kekeringan.
Dan, ketika terjadi fase La Nina, hembusan angin pasat dari Pasifik timur ke arah barat sepanjang ekuator menjadi lebih kuat dari biasanya. Menguatnya angin pasat nan mendorong massa air laut ke arah barat, maka di Pasifik timur suhu muka laut menjadi lebih dingin. Bagi Indonesia, perihal ini berfaedah akibat banjir nan lebih tinggi, suhu udara nan lebih rendah di siang hari, dan lebih banyak angin besar tropis.
"Dalam istilah pengetahuan suasana saat ini, El Nino menunjukkan kondisi anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator bagian timur dan tengah nan lebih panas dari normalnya, sementara anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian barat dan perairan Indonesia nan biasanya hangat (warm pool) menjadi lebih dingin dari normalnya," tulis BMKG.
"Pada saat terjadi El Nino, wilayah pertumbuhan awan bergeser dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah, menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia," jelas BMKG.
Dinamika Atmosfer Terkini
Sementara, dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I April 2026 nan dirilis BMKG pada 13 April 2026 menjabarkan hasil monitoring pada Dasarian I April 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesar +0.15(+0.023), mengindikasikan fenemena IOD berada pada fase Netral.
"Sementara itu, indeks ENSO Dasarian (ENSO bulanan) sebesar +0.28 (-0.01) menunjukkan kejadian ENSO juga berada pada fase Netral," tulis BMKG.
"Kondisi ENSO Netral diprediksi masuk fase El Nino mulai Mei-Juni-Juli 2026," jelas BMKG.
BMKG sendiri mengeluarkan peringatan awal kekeringan meteorologis bertindak untuk Dasarian II April 2026. Yaitu, pengelompokkan Waspada untuk beberapa kabupaten di Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tengah. Siaga untuk beberapa kabupaten di Provinsi Aceh.
Dan belum ada peringatan awal pengelompokkan Awas.
Foto: Sekretaris Utama BMKG Guswanto dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Antisipasi Fenomena El Nino (15 April 2026). (Dok BMKG)
BMKG Hadiri Rakor Polri untuk Antisipasi Fenomena El Nino 2026, (15 April 2026). (Dok BMKG)
(dce/dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·