Bima Arya Dorong Mahasiswa Perkuat Keahlian Global dan Jiwa Nasionalisme

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Jakarta -

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto membujuk mahasiswa membangun mental aktivis, menguasai kompetensi global, dan memperkuat semangat nasionalisme sebagai bekal menghadapi beragam tantangan di era nan penuh disrupsi dan ketidakpastian. Menurutnya, generasi muda perlu terus belajar, memperluas wawasan, serta bisa membaca perubahan era secara cermat.

Pesan tersebut disampaikan Bima saat menjadi narasumber Seminar Nasional bertema 'Geopolitik Global dan Tantangan Generasi Muda Indonesia' dalam rangkaian Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) II Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Banten, Pandeglang, Banten, Senin (15/6).

Dalam kesempatan itu, Bima mengapresiasi aktivitas nan diselenggarakan KAMMI sebagai ruang perbincangan nan krusial bagi pengembangan kapabilitas generasi muda. Menurutnya, forum obrolan mahasiswa merupakan investasi untuk menyiapkan calon pemimpin masa depan nan berbudi pekerti tangguh, mempunyai daya juang tinggi, serta bisa beradaptasi dengan perubahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau istilah saya, kalian kudu punya mental aktivis, skill global, dan hati nasionalis," kata Bima dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).

Lebih lanjut, dengan merujuk pada pemikiran sosiolog Anthony Giddens, Bima menjelaskan konsep generasi kosmopolitan, ialah generasi nan bisa memadukan identitas lokal, nasional, dan dunia secara seimbang. Karakter tersebut dinilai krusial agar generasi muda dapat berkecimpung di tingkat bumi tanpa kehilangan akar kebangsaan dan kearifan lokal.

"Di era dunia bisa cas, cis, cus punya networking. Di konteks nasional juga kokoh jiwa kebangsaannya. Tetapi punya akar lokal nan juga sangat kuat," ucapnya.

Sejalan dengan perihal tersebut, Bima mengingatkan mahasiswa agar memahami beragam perubahan nan terjadi, baik di tingkat nasional maupun global, sebagai bekal menghadapi era disrupsi dan ketidakpastian. Untuk memperkaya perspektif, dia merekomendasikan kitab The Great Wave: The Era of Radical Disruption and the Rise of the Outsider karya Michiko Kakutani nan menggambarkan bumi nan semakin diwarnai disrupsi radikal dan beragam kejutan nan susah diprediksi.

Menurutnya, salah satu kejadian nan menarik untuk dicermati adalah munculnya figur-figur di luar arus utama nan bisa mengubah lanskap politik, sosial, maupun ekonomi. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari kondisi nan tidak terduga.

"Ini realitanya the rise of outsider. Pertanyaannya bukan siapa mengambil apa, jatah siapa, diambil siapa, bukan. Tapi lebih dalam dari itu, adalah kenapa ini terjadi? Apakah ada kejenuhan kepada mainstream? Apakah kemudian juga pemain-pemain lama ini kurang siaga? Itu menarik untuk menjadi bahan kontemplasi," ungkapnya.

Menurut Bima, bumi saat ini tengah memasuki era ketidakpastian nan menuntut para pemimpin masa depan memahami keterkaitan antara dinamika dunia dan persoalan domestik. Karena itu, keahlian beradaptasi, berpikir terbuka, serta memahami keberagaman menjadi modal krusial dalam kepemimpinan.

Selain itu, dia menegaskan bahwa pemimpin nan baik adalah sosok nan ditempa oleh perbedaan dan terbiasa berinteraksi dengan beragam pandangan, latar belakang, maupun keyakinan.

"Biasa berbeda, enggak kudu selalu homogen dan sama. Tapi sangat terbiasa dengan perbedaan pikiran, pendapat, ideologi, keyakinan, dan semuanya," tandasnya.

Sebagai informasi, seminar nasional tersebut turut dihadiri Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) KAMMI, Ahmad Jundi Khalifatullah beserta jejeran pengurus dan kader KAMMI.

(prf/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News