Biaya Hidup Tinggi di Eropa, Warga Terancam Gembel-Pekerja Asing Bye!

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan biaya hidup nan terus meroket di seluruh area Eropa dilaporkan telah memukul mundur pemenuhan hak-hak dasar warga. Tingginya nilai properti serta tarif sewa tempat tinggal sekarang memaksa semakin banyak masyarakat kehilangan rumah hingga memicu lonjakan nomor tunawisma nan sangat mengkhawatirkan.

Mengutip AFP, Badan Hak-Hak Fundamental Uni Eropa (FRA) nan berbasis di Wina, Austria, mengungkapkan bahwa nilai rumah di Uni Eropa secara keseluruhan telah melonjak tajam hingga 53% dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir. Pada periode nan sama, tarif sewa bulanan juga tercatat mengalami kenaikan konstan hingga nyaris 17%. Kondisi ini membikin pemenuhan kewenangan atas papan nan layak menjadi peralatan mewah nan kian susah dijangkau.

"Meningkatnya biaya hidup berakibat pada banyak perseorangan dan keluarga, lantaran semakin banyak orang nan tidak bisa bayar tempat tinggal mereka dan berisiko menjadi tunawisma," tegas Direktur FRA Sirpa Rautio dalam rilis laporan tahunan lembaga tersebut, Kamis (11/6/2026).

Rautio juga menambahkan bahwa golongan usia muda serta organisasi rentan menjadi pihak nan paling terdampak oleh krisis ekonomi ini. Mereka menghadapi kesulitan nan luar biasa untuk sekadar mengakses kewenangan dasar atas perumahan nan layak. Ironisnya, sebagian besar dari golongan rentan ini juga dilaporkan sama sekali tidak mempunyai perlindungan norma nan kuat terhadap ancaman penggusuran sepihak.

Federasi Organisasi Nasional Eropa untuk Tunawisma (Feantsa) memperkirakan jumlah penduduk nan tidak mempunyai tempat tinggal tetap di Uni Eropa telah membengkak hingga mendekati 1,3 juta orang pada tahun lalu. Angka ini menjadi indikasi kuat bahwa krisis sosial sedang berkembang menjadi peledak waktu di tengah masyarakat Eropa.

Keamanan dan Kebencian Online

Di luar masalah ekonomi, FRA mencatat bahwa Uni Eropa sekarang semakin diuji dalam mempertahankan tata kelola berbasis patokan dan hak-hak fundamental. Ketidakstabilan geopolitik nan intens serta ancaman keamanan dunia nan dipicu oleh perang nan terus berkepanjangan di luar perbatasan luar negeri turut merembet masuk dan merusak tatanan sosial di dalam negeri.

"Lingkungan internasional nan tidak dapat diprediksi dan perang nan sedang berjalan memberikan akibat langsung di sini, di rumah kita sendiri-terutama terhadap rasa kondusif dan kesejahteraan masyarakat," jelas Rautio menjabarkan pengaruh domino bentrok dunia bagi psikologis penduduk Eropa.

Kondisi stres sosial ini juga terindikasi dari masifnya penyebaran konten kebencian dan hoaks di bumi maya. Berdasarkan temuan FRA, lebih dari satu banding tiga orang di wilayah Uni Eropa mengaku pernah menemukan konten online nan mereka nilai sangat rawan bagi keselarasan sosial.

Penegakan norma digital untuk mengatur internet pun menghadapi tantangan besar. Termasuk dalam meminta pertanggungjawaban dari platform-platform teknologi raksasa.

Diskriminasi Pekerja Asing

Laporan komprehensif nan mencakup 27 negara personil Uni Eropa ditambah Albania, Makedonia Utara, dan Serbia ini juga menyoroti masalah ketenagakerjaan nan serius. Para pekerja dari negara ketiga alias luar Uni Eropa dilaporkan terus mengalami diskriminasi sistematis serta pemanfaatan tenaga kerja nan parah.

Banyak dari pelaut alias pekerja migran tersebut nan kudu bekerja di bawah level kualifikasi akademis original mereka. Padahal di saat nan bersamaan, Uni Eropa justru sedang menghadapi krisis kelangkaan tenaga kerja dalam skala nan sangat besar di beragam sektor industri penting.

Ironi ini dinilai terjadi lantaran izin pasar kerja lokal nan tetap belum bisa mengintegrasikan potensi para pekerja asing secara setara dan logis.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News