Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan suku kembang referensi Bank Indonesia, ialah BI Rate sebesar 25 pedoman poin menjadi 5,75% dianggap sejumlah ahli ekonomi sebagai langkah nan positif untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Hal tersebut disampaikan oleh ahli ekonomi Bank Permata Josua Pardede kepada CNBC Indonesia pada Jumat (19/6/2026).
"Dampak kenaikan BI-Rate terhadap rupiah dalam jangka pendek condong positif lantaran membikin aset rupiah lebih menarik," ujar Josua Pardede.
Josua menjelaskan langkah BI memberi insentif lindung nilai bagi penanammodal asing, membuka kembali lelang repo untuk menjaga likuiditas, serta meningkatkan ruang pendanaan luar negeri bank dari 35% menjadi 40% dari modal bank mulai 1 Juli 2026.
"Hasil awalnya terlihat pada aliran modal. BI mencatat pada kuartal II 2026 hingga 15 Juni terjadi aliran modal asing masuk bersih sebesar 3,9 miliar dolar AS, berbalik dari aliran keluar 0,8 miliar dolar AS pada kuartal pertama," ujar Josua.
"Rupiah juga menguat menjadi Rp17.730 per dolar AS pada 17 Juni 2026, didukung kenaikan imbal hasil instrumen rupiah, intervensi BI, serta masuknya biaya asing ke SRBI dan SBN," lanjutnya.
Nilai tukar rupiah sendiri rupiah sukses ditutup menguat 0,17% ke level Rp17.700/US$ pada perdagangan Kamis (18/6/2026) usai pengumuman suku kembang BI.
Meskipun demikian, Josua mengkritisi kualitas aliran modal nan sebagian besar tetap bertumpu pada instrumen jangka pendek seperti SRBI.
Josua mengatakan perihal ini memang dapat menstabilkan rupiah, namun bakal mudah keluar jika dolar AS kembali menguat, imbal hasil obligasi AS naik, dan persepsi akibat Indonesia memburuk.
Sementara bagi perekonomian Indonesia, Josua memandang kenaikan suku kembang BI sebagai obat stabilitas, khususnya mengenai dengan upaya dalam menjangkar tekanan inflasi.
"Bagi ekonomi Indonesia, kenaikan BI-Rate adalah obat stabilitas, tetapi bukan obat pertumbuhan. Dampak positifnya adalah rupiah lebih stabil, inflasi impor dapat ditekan, persediaan devisa lebih terlindungi, dan minat penanammodal terhadap aset rupiah meningkat," imbuhnya.
Di sisi lain, akibat negatifnya adalah biaya dana perbankan berpotensi naik, suku kembang angsuran baru bisa meningkat, konsumsi peralatan tahan lama melemah, dan investasi swasta menjadi lebih selektif.
(arj/arj)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·