Jajaran dewan bank Indonesia(MI/Ihfa Firdausya)
GUBERNUR Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bakal memerhatikan usulan lembaga penyedia indeks dunia MSCI mengenai rencana penurunan pengelompokkan pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Ia mengatakan BI terus memonitor arus modal nan keluar alias capital outflow sebagai akibat dari rencana MSCI.
"Tentunya kami memonitor outflow nan terjadi sepanjang pergerakan nan terjadi setelah MSCI. Dua hari kemarin makanya kami obrolan gimana kita menyikapi ini," ujar Destry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10).
Destry mengatakan bahwa BI sekarang mau kebijakan nan lebih tepat sasaran antara lain menarik arus modal kembali.
"Kita tahu outflow memang terjadi. Kita kudu berupaya untuk attract lagi outflow itu masuk menjadi inflow," jelas Destry.
Ia menyebut stabilitas tetap menjadi prioritas BI ialah menjaga nilai tukar rupiah. Sebab, andaikan arus modal masif terjadi, nilai tukar rupiah bakal tertekan. Selain itu, sambung dia, BI melakukan assessment terhadap kondisi tekanan rupiah dalam beberapa hari terakhir.
"Tapi kami tetap memandang bahwa tekanannya tetap relatif dalam pemisah nan cukup normal. Karena pada saat nan berbarengan juga regional kondisinya lagi enggak terlalu baik," papar Destry.
Terkait inflasi, BI memandang inflasi terjadi terhadap nilai pangan. Namun untuk nan inflasi inti, kata dia, tetap cukup terkendali di level 2,84%.
"Dan juga apa nan telah kami lakukan kenaikan 100 pedoman poin (BI Rate) dari Mei-Juni kemarin itu sudah bisa meng-anchor untuk expectation inflasi pada sasaran nan memang kami tuju. Kita memandang dengan kenaikan 100 pedoman poin juga sudah terjadi repricing dari beberapa aset finansial kita," jelas Destry.
BI, sambung Destry, mengoptimalkan insentif nan diberikan kepada para investor. Tujuannya agar mereka masuk mendatangkan inflow alias memasukkan dananya untuk membeli portfolio Indonesia baik itu Surat berbobot negara (SBN), sekuritas rupiah bank Indonesia (SRBI), termasuk juga pinjaman dan sebagainya. Untuk Domestic Non-Deliverable Forward adalah instrumen derivatif kurs asing (DNDF), BI memberikan insentif pengurangan pada biaya hedging alias biaya lindung nilai mereka hingga sebesar 45%.
"Sejak Juni hingga Oktober ini kita mulai berlakukan kebijakan insentif ini dalam corak untuk swap maupun DNDF. Dan sepanjang Juni kemarin hingga saat ini sudah sukses mendatangkan inflow sampai US$9,9 miliar," ungkapnya.
Harapannya bahwa di pasar aset domestik terjadi repricing, termasuk di SBN. Kemudian ditambah insentif nan lebih diperbesar sehingga bakal membikin spread antara aset domestik dengan misalnya USD juga menjadi lebih menarik. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·