Bank Indonesia (BI) menilai penguatan transaksi menggunakan mata duit lokal alias Local Currency Transaction (LCT) semakin krusial di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Skema tersebut dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus membikin transaksi perdagangan antarnegara menjadi lebih efisien.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama, mengatakan dinamika dunia saat ini mendorong banyak negara memperkuat kerja sama bilateral melalui penggunaan mata duit masing-masing dalam transaksi perdagangan maupun investasi.
“Local Currency Transaction ini menurut kami merupakan salah satu inisiatif nan perlu terus dikembangkan, apalagi sejak Presiden AS menerapkan Liberation Day. Jadi sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” kata Ruth di Makassar, Jumat (21/5).
Menurut BI, penggunaan mata duit lokal dalam transaksi lintas negara dinilai dapat mengurangi kebutuhan penggunaan dolar AS sebagai mata duit perantara.
Langkah tersebut juga dipandang bisa meredam akibat gejolak dunia terhadap aktivitas perdagangan dan transaksi finansial internasional.
Data BI menunjukkan jumlah pelaku LCT terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hingga April 2026, rata-rata pelaku LCT tercatat mencapai 5.265 pelaku per bulan.
Angka itu meningkat tajam dibandingkan 497 pelaku pada 2021 dan 1.741 pelaku pada 2022.
Pertumbuhan tersebut bersambung pada 2023 menjadi 2.602 pelaku dan naik lagi menjadi 5.020 pelaku pada 2024. Bahkan sepanjang 2025, rata-rata pelaku LCT sempat menyentuh 9.720 pelaku per bulan.
Tidak hanya dari sisi jumlah pengguna, nilai transaksi LCT juga menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Hingga April 2026, total transaksi LCT mencapai USD 22,61 miliar alias melonjak 309 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya nan sebesar USD 7,33 miliar.
Ruth menilai lonjakan tersebut mencerminkan semakin luasnya diversifikasi penggunaan mata duit dalam aktivitas ekonomi dan finansial internasional.
“Bukan berfaedah kita menghindari dolar AS, lantaran kita tahu transaksi dunia tetap dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara nan memang mempunyai volume transaksi besar dan bisa langsung menggunakan mata duit domestik, kenapa kudu lewat dolar dulu?” ungkapnya.
Terbesar dari China
BI mencatat mitra utama Indonesia dalam penerapan LCT saat ini berasal dari China, Jepang, dan Malaysia. Porsi transaksi terbesar berasal dari China sebesar 89 persen, kemudian Jepang 6 persen, serta Malaysia 3 persen.
Bank sentral menilai skema LCT juga memberikan faedah dari sisi efisiensi biaya transaksi lantaran pelaku upaya tidak perlu lagi melakukan konversi melalui dolar AS. Selain itu, penggunaan mata duit lokal juga dinilai dapat memperluas diversifikasi eksposur mata duit dan memperdalam pasar finansial kawasan.
Ruth menjelaskan penerapan LCT Indonesia dimulai pada 2018 melalui kerja sama dengan Malaysia dan Thailand, sebelum diperluas ke Jepang, China, dan Korea Selatan. Ke depan, kerja sama serupa juga bakal diperluas ke negara lain setelah tahapan teknis dan pedoman operasional selesai disusun.
“Perkembangan LCT nan dilakukan Bank Indonesia diawali dengan Malaysia dan Thailand, kemudian berkembang ke Jepang, China, Korea, Singapura, dan India. Dalam waktu dekat nan bakal segera diimplementasikan adalah Singapura, India, dan Saudi Arabia,” kata Ruth.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·