Ilustrasi(Magnific)
PERNAHKAH Anda melakukan pemeriksaan darah rutin dan hasilnya menunjukkan semuanya normal, padahal Anda merasa sangat capek dan stres berat? Kondisi ini sering kali mengecoh. Di kembali angka-angka laboratorium nan tampak aman, stres kronis bisa jadi sedang merusak tubuh Anda secara perlahan tanpa disadari.
Para intelektual menyebut akibat akumulatif dari stres berkepanjangan ini sebagai allostatic load (beban alostatis). Istilah ini merujuk pada "biaya" biologis nan kudu dibayar tubuh lantaran terus-menerus dipaksa beradaptasi dengan stres. Kerusakan ini nyata dan dapat diukur, mulai dari tekanan darah nan sedikit meningkat, hormon stres nan mengendap, hingga kadar gula darah nan merayap naik.
Sebuah tim peneliti kedokteran family dan fisiologi dari Universitas Josip Juraj Strossmayer Osijek (UNIOS) di Kroasia mengumpulkan beragam bukti mengenai kejadian ini. Hasil kajian mereka nan diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Medicine menyoroti satu kelemahan besar dalam bumi medis saat ini: beban stres selama ini diukur dengan standar nan sama untuk semua orang, padahal dampaknya pada setiap perseorangan sangat berbeda, terutama berasas jenis kelamin dan usia.
Perbedaan Dampak pada Pria dan Perempuan
Ketika sampel darah dari laki-laki dan wanita nan mengalami stres kronis diperiksa, perbedaan kimiawi nan kontras mulai terlihat. Pria nan stres condong menunjukkan parameter akibat penyakit jantung dan metabolik nan lebih tinggi, seperti lonjakan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah. Sebaliknya, wanita lebih banyak menunjukkan parameter nan berangkaian dengan peradangan (inflammatory markers).
Perbedaan ini juga terlihat di dalam otak. Melalui pemindaian otak, laki-laki nan mengalami stres menunjukkan peningkatan aktivitas di korteks prefrontal, bagian otak nan mengatur perencanaan. Sementara pada perempuan, aktivitas lebih banyak meningkat di area sistem limbik nan mengontrol emosi. Pola respons sirkuit otak ini menjelaskan kenapa wanita lebih rentan terhadap kekhawatiran dan depresi, sedangkan laki-laki lebih rentan terhadap penyakit jantung dan diabetes.
Faktor Usia dan Lingkungan
Selain aspek biologis, lingkungan sosial ikut berpengaruh. Menariknya, penelitian menemukan bahwa tuntutan peran kelamin maskulin memicu beban alostatis nan tinggi, baik pada laki-laki maupun perempuan. Perempuan nan bekerja di lingkungan nan didominasi laki-laki kerap menanggung beban stres lebih besar lantaran besarnya daya nan dihabiskan untuk beradaptasi. Gaya hidup jelek seperti merokok, konsumsi alkohol, diet nan salah, dan kurang bergerak juga memperparah kondisi ini.
Seiring bertambahnya usia, keahlian tubuh mengelola stres turut berubah. Di satu sisi, lansia mempunyai akumulasi kerusakan tubuh nan lebih besar dari waktu ke waktu, nan meningkatkan akibat penyakit kronis seperti kanker. Di sisi lain, banyak lansia nan justru menunjukkan ketahanan (resilience) psikologis nan lebih baik lantaran pengalaman hidup mereka dalam mengelola stres.
Kabar baiknya, akibat dari allostatic load ini berkarakter reversibel alias bisa dipulihkan. Olahraga teratur, tidur nan cukup, pola makan sehat, meditasi, serta support hubungan sosial nan kuat terbukti secara medis bisa menurunkan tingkat peradangan dan memulihkan respons stres tubuh.
Melalui sintesis ilmiah ini, para peneliti mendesak bumi medis untuk mulai menerapkan periode pemisah akibat nan berbeda berasas jenis kelamin dan usia agar penemuan awal dan pencegahan penyakit akibat stres bisa dilakukan secara lebih tepat sasaran. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·