BI Catat Modal Asing Masuk Rp19,02 Triliun ke SRBI dan SBN Setelah BI-Rate Naik ke 5,50 Persen

Sedang Trending 1 jam yang lalu
BI Catat Modal Asing Masuk Rp19,02 Triliun ke SRBI dan SBN Setelah BI-Rate Naik ke 5,50 Persen Ilustrasi(MI/Usman Iskandar)

BANK Indonesia (BI) melaporkan arus modal asing (foreign inflows) ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp19,02 triliun pada 10-11 Juni 2026. Pencapaian tersebut terjadi setelah bank sentral meningkatkan BI-Rate menjadi 5,50%.

Berdasarkan info BI, aliran biaya dari penanammodal nonresiden ke SRBI tercatat sebesar Rp15,11 triliun, sementara investasi pada SBN mencapai Rp3,91 triliun.

"Pascakenaikan BI-Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen finansial domestik," kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (12/6).

Selain masuk ke SRBI dan SBN, Destry mengungkapkan bahwa penanammodal asing juga menunjukkan minat terhadap obligasi internasional Danantara. Instrumen tersebut sukses mencatat penjualan perdana senilai Rp26,9 triliun.

"Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan penanammodal terhadap aset-aset domestik," kata dia.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah pada Jumat (12/6) ditutup pada kisaran Rp17.865-Rp17.875 per dolar AS. Posisi ini menguat 0,84% dibandingkan penutupan pada 5 Juni 2026 nan berada di level Rp18.010-Rp18.020 per dolar AS.

Menurut Destry, penguatan rupiah tersebut mencerminkan respons positif pasar terhadap kombinasi kebijakan nan diterapkan Bank Indonesia.

Kebijakan nan dimaksud tidak hanya berupa kenaikan BI-Rate menjadi 5,50%, tetapi juga mencakup penguatan struktur suku kembang SRBI, pemberian insentif hedging swap bagi penanammodal asing, pembukaan akses repo guna mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter baik dalam rupiah maupun kurs asing.

"Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi nan erat antara Bank Indonesia dan pemerintah," imbuh Destry.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa ketahanan sektor eksternal Indonesia turut diperkuat melalui kerja sama finansial antara BI, People's Bank of China (PBOC), dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Kerja sama tersebut menghasilkan tiga kesepakatan utama, ialah memperkuat sinergi dalam menjaga ketahanan finansial masing-masing negara sekaligus stabilitas finansial regional, memperkuat Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta meningkatkan komitmen penggunaan mata duit lokal dalam transaksi bilateral melalui ekspansi Local Currency Transactions (LCT).

Destry menilai langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Ia juga menegaskan bahwa BI bakal terus datang di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah dan beragam pemangku kepentingan bakal terus diperkuat untuk menjaga stabilitas rupiah serta meningkatkan ketahanan eksternal perekonomian nasional.

"Dengan beragam perkembangan di atas, diyakini rupiah bakal terus menguat terhadap dolar AS menuju ke level fundamentalnya," tutup Destry. (Ant/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia