BI Beberkan Penyebab Rupiah Tembus Rp 17.300 per Dolar AS

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Petugas menghitung duit pecahan dolar AS di Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (11/10/2024). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus terjadi dalam beberapa pekan terakhir, hingga sempat menyentuh level Rp 17.300 per dolar AS pada Kamis (23/4).

Bank Indonesia menilai pelemahan tersebut terjadi imbas kondisi geopolitik nan memanas akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Juli Budi Winantya, mengatakan di pasar finansial dunia terjadi pergeseran aliran modal ke safe haven assets.

"Sementara aliran modal ke emerging market semakin terbatas," kata Juli dalam aktivitas FGD di Bandung, Jumat (24/4).

Juli mengatakan terjadi kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury dipengaruhi perkiraan defisit fiskal AS nan lebih besar, nan salah satunya disebabkan untuk membiayai perang.

"Amerika Serikat bakal mengeluarkan shopping nan lebih besar. Defisit fiskal lebih besar, maka dampaknya imbal hasil lebih tinggi. Yield US Treasury 10 tahun maupun 2 tahun terus meningkat," terang Juli.

Menurutnya, perihal tersebut berakibat pada pergerakan arus modal dari negara berkembang ke Amerika Serikat terus meningkat.

"Dampaknya apresiasi dolar AS terus terjadi. Dolar AS menguat terhadap nyaris semua mata uang," ujar Juli.

Petugas menunjukkan duit pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata duit asing, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: ANTARA FOTO/Fathul Habib Sholeh

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan pelemahan mata duit di kawasan. Kondisi global, termasuk eskalasi bentrok geopolitik dan sentimen pasar finansial internasional, tetap menjadi aspek utama nan membebani pergerakan rupiah.

“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian dunia nan juga menekan mata duit regional. Pergerakan rupiah tetap sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54 persen,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4).

Di tengah tekanan tersebut, Destry memastikan BI terus mengintensifkan langkah stabilisasi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik, sekaligus meredam volatilitas di pasar keuangan.

“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku kembang instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya akibat bentrok Timur Tengah," terang Destry.

"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026,” tambahnya.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan