Jakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang mengatakan pihaknya saat ini tidak lagi konsentrasi mengejar sasaran 82,9 juta penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun ini. Dia mengatakan prioritas utama saat ini adalah memastikan kualitas penyelenggaraan program.
"Nah, jadi gini dampaknya, kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, tahun 2026 ini minta Bapak kami tidak mengejar kuantitas. Kami bakal perbaiki kualitas, sehingga bisa jadi kami tidak bakal mengejar ke 82 juta. Tapi gimana dapur-dapur ini sehat, memberikan makan nan bergizi," kata Nanik dalam konvensi pers usai rapat konsolidasi ketua BGN di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).
Nanik menjelaskan, konsentrasi baru BGN adalah membenahi dapur MBG nan sudah beraksi agar memenuhi standar kesehatan dan kualitas makanan. Dapur nan tidak memenuhi standar bakal dievaluasi dan dapat dikenai suspensi sementara.
Selain itu, BGN juga bakal memperkuat training sumber daya manusia (SDM) di dapur MBG agar pelayanan lebih baik dan makanan nan disajikan betul-betul bergizi.
Menurut Nanik, perubahan konsentrasi tersebut juga dibarengi dengan penataan ulang sasaran penerima manfaat. Ia menyebut BGN bakal memprioritaskan golongan nan paling membutuhkan, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
"Kita fokuskan adalah ke 3T dan terutama untuk 3B," ujarnya.
Ia menjelaskan, berasas masukan para master gizi dan master anak, intervensi gizi paling krusial dilakukan sejak masa kehamilan hingga anak berumur sekitar 9 tahun alias setara usia sekolah dasar.
"Bahwa mereka itu mengatakan bahwa intervensi gizi itu paling bagus adalah saat mulai kandungan bulan pertama sampai usia 9 tahun alias sampai SD. Nah, kita nan kejar ke sana," kata Nanik.
Dalam kesempatan nan sama, Nanik juga mengungkapkan BGN tengah melakukan beragam langkah efisiensi anggaran. Salah satunya adalah moratorium sementara pembangunan dapur MBG baru agar pemerintah dapat lebih konsentrasi merapikan dapur nan sudah ada dan memperluas jangkauan program ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Kami concern perihal pertama nan kami lakukan adalah untuk melakukan efisiensi anggaran sehingga meskipun sekarang sudah dipotong tinggal 268, kami berambisi tetap bisa menurunkan lagi namun tidak mengurangi sasaran," ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan program MBG tidak semata-mata diukur dari banyaknya penerima, tetapi dari kualitas jasa dan akibat gizi nan dihasilkan bagi masyarakat.
(bel/zap)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·