BGN soal 200 Siswa Surabaya Keracunan MBG: SPPG Tak Ada Pengawas Gizi

Sedang Trending 51 menit yang lalu

Surabaya, CNN Indonesia --

Badan Gizi Nasional (BGN) mengatakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh Surabaya telah melakukan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga mengakibatkan 200 lebih siswa mengalami keracunan massal.

Perwakilan BGN Jawa Timur sekaligus Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Surabaya, Kusmayanti, mengungkapkan salah satu pelanggaran prosedur itu adalah absennya pengawas gizi di letak saat bahan baku makanan tiba.

"Memang terjadi kesalahan penerapan SOP. SOP nan ditentukan BGN itu sudah baik, namun di SPPG nan berkepentingan terjadi kesalahan penerapan. Di antaranya, pengawas gizi tidak ada di tempat saat kualitas bahan baku datang," kata Kusmayanti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu diungkap Kusmayanti dalam rapat dengar pendapat (hearing) berbareng DPRD Kota Surabaya, Rabu (13/5). Forum itu juga dihadiri langsung oleh Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai.

Kusmayanti menjelaskan absennya pengawas gizi membikin pihaknya tidak dapat memastikan apakah kerusakan makanan terjadi sejak pengedaran bahan baku alias pada saat proses pengolahan di dapur.

Kondisi diperparah dengan rusaknya sampel makanan nan semestinya menjadi peralatan bukti pemeriksaan laboratorium. Kusmayanti menyebut sampel makanan sempat dikeluarkan dari lemari pendingin tanpa penanganan unik sebelum pihak Dinas Kesehatan tiba.

"Harusnya ketika dikeluarkan ada treatment unik dan dimasukkan ke cooler box, tidak dibiarkan di suhu ruangan. Akibatnya, hanya daging nan tetap bisa diambil sampelnya," paparnya.

Atas kejadian ini, BGN secara resmi menyampaikan permohonan maaf. Kejadian ini tercatat sebagai kasus keracunan pertama dalam program MBG di wilayah Surabaya.

"Dengan segala kerendahan hati kami memohon maaf. Ini menjadi catatan bagi kami untuk jauh lebih waspada dan lebih hati-hati dalam penerapan SOP," kata Kusmayanti.

Senada dengan temuan BGN, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Billy Daniel Messakh, membeberkan sejumlah kejanggalan dalam proses pengolahan makanan di dapur SPPG tersebut. Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, Billy menyoroti proses pencairan alias defrosting daging kaku nan dilakukan di area tidak higienis.

"Daging itu dalam keadaan beku, di-defrost (dicairkan) di area nan tidak bersih. Prosesnya itu sekitar dua jam sampai daging layak potong. Selama itu lingkungan lalat cukup banyak," kata Billy.

Billy juga mengkritik akomodasi dapur nan dinilai tidak memenuhi standar kelaikan dan higienitas, mulai dari perangkat penjebak serangga alias insect trap nan tidak berfaedah optimal hingga ketiadaan gorden plastik pada pintu masuk dapur.

"Pintu masuk dapur itu juga harusnya ada penghalang plastik, itu juga tidak ada. Memudahkan sekali insect untuk keluar masuk," ujarnya.

Hingga saat ini, BGN dan Dinkes Surabaya tetap menunggu hasil uji laboratorium untuk menentukan penyebab pasti keracunan tersebut.

Sebelumnya, 200-an siswa hingga pembimbing dari 12 sekolah di Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan massal usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (11/5).

Dari jumlah itu, sebagian besar siswa telah diperbolehkan pulang. Sedangkan tujuh pasien hingga Rabu (13/5) sekarang tetap menjalani perawatan dan observasi di RSIA Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Surabaya.

(frd/dal)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional