Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mengkaji sistem shopping bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sistem tersebut nantinya bakal mengatur sistem pembelian bahan pangan prioritas agar proses pengadaan lebih transparan.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, pihaknya memerlukan waktu sekitar tiga minggu hingga satu bulan untuk mematangkan sistem tersebut.
“Kami menginginkan, sekarang sedang kami kaji, kami butuh waktu mungkin beberapa minggu, ya tiga minggu satu bulan Insya Allah, kami sedang mengkonsep semacam jika di Kementerian Dikdasmen itu SIPLah (Sistem Informasi Pengadaan Sekolah),” kata Sudaryono saat rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9).
“Jadi belanjanya itu menggunakan sistem sehingga tidak ada lagi hanky-panky, tidak ada lagi minta kickback, tidak ada lagi beli kualitasnya jelek tapi diaku tinggi, diaku bagus, agar dia ngambil untung dan lain sebagainya,” lanjutnya.
Sudaryono menjelaskan, sistem tersebut bakal diprioritaskan untuk tujuh komoditas bahan pangan nan digunakan dalam program MBG. Ketujuh komoditas itu ialah beras, minyak goreng, ayam, telur, daging, ikan, dan susu.
“Khususnya adalah tujuh item nan kami prioritaskan. nan pertama beras, enggak boleh pakai SPHP. nan kedua minyak goreng, tidak boleh pakai minyak goreng Minyakita. nan ketiga ayam, telor, daging, ikan, dan susu,” ujarnya.
Menurut Sudaryono, pengaturan unik terhadap tujuh bahan pangan itu diperlukan lantaran sebagian di antaranya berangkaian dengan produk nan mempunyai sistem nilai unik maupun subsidi pemerintah.
“Kenapa ini menjadi penting? Karena protein hewani ini kudu special handling. Kalau penanganannya enggak bener, ini menyebabkan gangguan kesehatan, dan sasaran kita untuk mencapai gizi nan baik ini kemudian tidak bisa kita capai,” kata Sudaryono.
Dia juga menyoroti pentingnya standar nan jelas dalam pengadaan dan penerimaan bahan pangan, khususnya protein hewani. Salah satunya mengenai ayam nan bakal digunakan dalam program MBG.
Menurut dia, pemahaman mengenai standar bahan pangan seperti ayam segar dapat berbeda antara satu pihak dengan pihak lainnya andaikan tidak ada sistem dan standar nan jelas.
“Karena misalnya begini, contoh saja misalnya ayam fresh. Misalnya ayam kudu diterima dalam corak fresh. Itu khayalan orang itu lain, Pak. Ada nan fresh itu mengatakan dingin, ada nan fresh itu kira-kira… disembelih, gitu, sehingga ini,” ujarnya.
Selain persoalan standar kualitas, Sudaryono mengatakan BGN juga mau mencegah adanya pemasok nan sebelumnya bermasalah kemudian kembali memasok bahan pangan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lainnya.
“Nah, termasuk juga dengan tidak adanya sistem, orang nan ngasih ayam jelek nan menyebabkan keracunan makanan misalnya, itu kemudian ditutup di 1 SPPG, dia bisa jualan di SPPG lain lantaran tidak adanya cross info di antara SPPG,” katanya.
Sudaryono mengatakan bahan ramuan seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan lainnya bakal tetap diserahkan kepada sistem pasar.
“Nah, selain tujuh tadi, itu kemudian brambang, bawang, dan ketumbar dan lain sebagainya itu diserahkan sistem pasar saja gitu ya, tapi jika nan tujuh tadi kami usulkan itu kemudian bisa diatur, lantaran memang ini special handling dan ada unsur subsidinya lah, SPHP kan stabilisasi pasokan kan harganya khusus, termasuk Minyakita juga harganya khusus, gitu,” ungkapnya.
Sudaryono juga menilai terdapat persoalan pada nilai sejumlah bahan pangan, khususnya ayam dan telur.
“Kami memang sebelumnya di Kementerian Pertanian, jadi ada persoalan besarnya rantai pasok itu mengenai rantai pasok sekarang ini nan lagi masalah itu ayam, harganya mahal. Telor, harganya sangat murah sekali,” kata Sudaryono.
Sudaryono mengatakan kondisi nilai tersebut telah terjadi sejak masa libur kenaikan kelas.
“Dan ini memang terjadi semenjak libur kemarin, libur kenaikan kelas kemarin. Waktu itu saya tetap jadi Wakil Menteri Pertanian, kami berambisi kira-kira setelah masuk sekolah kelak harganya bakal menyesuaikan. Ternyata enggak, nilai telornya tetap murah sekali,” ujarnya.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·