Badan Gizi Nasional (BGN) mencoret 1.653 sekolah dari daftar penerima faedah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala BGN Sudaryono mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari pembenahan penerima faedah agar penyelenggaraan program lebih tepat sasaran.
Sudaryono mengatakan jumlah penerima faedah MBG nan telah dicapai saat ini tetap berkarakter sementara. BGN tetap melakukan pertimbangan dan pembenahan terhadap golongan penerima faedah program.
“Perlu kami sampaikan bahwa capaian penerima faedah sampai saat ini tetap merupakan capaian sementara, lantaran BGN sedang melakukan pembenahan dari sisi penerima manfaat,” ujar Sudaryono dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9).
“Dan sudah kami umumkan sebanyak 1.653 sekolah ditetapkan tidak lagi menerima MBG dan jasa bakal semakin diarahkan ke golongan nan membutuhkan, termasuk wilayah 3T dan wilayah dengan kebutuhan intervensi gizi nan tinggi lantaran status stunting nan tinggi dan tinggi sekali,” lanjutnya.
Selain mengevaluasi penerima manfaat, BGN juga melakukan pertimbangan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur MBG.
“Pada saat nan sama kami juga mengevaluasi SPPG, kami tidak mau mengejar jumlah penerima faedah dengan mengorbankan kualitas dan keamanan. Oleh lantaran itu, standar higiene dan sanitasi, SLHS kami tegakkan secara konsisten dan strict,” tutur Sudaryono.
Jika SPPG tidak melakukan perbaikan sesuai ketentuan, BGN bakal memberikan hukuman lebih lanjut berupa penghentian secara total alias penutupan permanen.
“SPPG nan belum memenuhi ketentuan dilakukan suspend sampai dengan syarat dipenuhi dan perbaikan dilakukan. Manajala tidak dilakukan, maka kami suspend total, kami tutup secara permanen,” sambungnya.
Sudaryono mengatakan adanya selisih antara sasaran dan jumlah penerima faedah MBG saat ini tidak dapat diartikan sebagai tanda bahwa program tersebut berhenti. Menurut dia, kondisi tersebut merupakan bagian dari proses pertimbangan dan pembenahan program.
“Jadi selisih terhadap sasaran penerima faedah bukan berfaedah program berhenti, ini merupakan bagian dari proses pembenahan agar MBG melangkah lebih tepat sasaran dan berkelanjutan,” ucapnya.
Sudaryono mengatakan ekspansi program bakal dimulai dari wilayah 3T dan wilayah dengan tingkat stunting tinggi. BGN juga bakal memprioritaskan wilayah nan lebih membutuhkan.
“Setelah kesiapan jasa dipenuhi, bakal terus kami lakukan secara berjenjang dimulai dari 3T, dimulai dari wilayah-wilayah nan status stuntingnya tinggi dan tinggi sekali dimulai dari luar Pulau Jawa dan kemudian kami ke wilayah-wilayah lain nan memang memerlukan termasuk di dalam Pulau Jawa. Kita mulai tahapannya dari mulai nan paling memerlukan terlebih dahulu,” katanya.
43 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·