Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah bakal mengadakan rapat unik lintas kementerian alias lembaga (K/L) besok hari, Selasa (28/4/2026) untuk merespons naiknya harga-harga barang, imbas tingginya nilai plastik dunia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, rapat penanganan melambungnya nilai plastik bumi ini bakal digelar oleh Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP).
"Besok kita bakal telaah dalam rapat tim Satgas. Satgas Percepatan Perekonomian Nasional. Termasuk debottlenecking," kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Airlangga mengatakan, salah satu isi pembahasan mengenai dengan rencana pemberian stimulus agar pengaruh kenaikan nilai plastik dunia tak terus menerus mendorong naiknya harga-harga peralatan di dalam negeri.
Meski begitu, dia meminta semua pihak menunggu hasil rapat nan dilakukan besok hari untuk mengetahui perincian rencana kebijakan penanganan nilai plastik dunia. "Tunggu, besok baru dibahas," tegasnya.
Adapun Airlangga merupakan Ketua I Satgas dan Ketua II adalah Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg). Satgas mempunyai tiga orang wakil ketua, ialah Menteri Keuangan (Menkeu), Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Sebagaimana diketahui, kenaikan nilai plastik bumi turut mendorong nilai peralatan kebutuhan pokok masyarakat, salah satunya minyak goreng,
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Senin (27/4/2026), kenaikan nilai minyak goreng terjadi di semua jenis, baik premium maupun minyak curah.
Tono, salah satu pedagang di Pasar Minggu mengungkapkan nilai minyak goreng tetap tinggi.
"Masih belum turun harganya, ini nan Tropical 2 liter tetap Rp45.000, Tropical 1 liter Rp22.500, Sovia enggak 1 liter, tapi 800 ml saja harganya Rp20.000," kata Tono saat ditemui CNBC Indonesia, Senin (27/4/2026).
Tak hanya minyak goreng dengan merek terkenal, minyak goreng second brand juga tetap tinggi. Di tokonya ialah minyak goreng Fitri dijual bungkusan botol ukuran 400 ml dan 200 ml. Harganya juga tetap tinggi.
"Kalau nan Fitri 400 ml itu Rp15.000, Fitri 200 ml Rp7.000," lanjutnya.
Sementara untuk Minyakita, dirinya mengaku sengaja tidak menjual sejak lama.
"Kalau Minyakita memang kami enggak jual, sudah lama sih, bukan lantaran lagi enggak ada, memang kami enggak jual," ujarnya.
Senada dengan Tono, Yusuf, pedagang lainnya mengungkapkan nilai minyak goreng tetap tinggi. Bahkan untuk minyak goreng curah, Ia menjual dengan nilai Rp23.000 untuk 1 kg.
"Iya, nilai minyak goreng tetap tinggi, nan minyak goreng premium 2 liter sudah di atas Rp40.000, nan minyak curah sekarang Rp23.000 per 1 kg," kata Yusuf.
Bahkan, nilai minyak goreng curah sempat naik menjadi Rp25.000 per 1 kg saat dimulainya perang Iran vs Amerika Serikat (AS).
"Minyak goreng curah 1 kg malah sempat ke Rp25.000, sebelum lebaran lah, sekarang sudah turun, tapi tetap tinggi, biasanya kan Rp19.000-Rp20.000," terangnya.
Meski nilai tetap tinggi, tetapi pasokan minyak goreng tetap normal alias tidak ada kelangkaan. Hanya saja untuk Minyakita, banyak pedagang tidak menjualnya.
"Kalau minyak goreng biasa, tetap kondusif sih stoknya, hanya jika Minyakita, memang lagi enggak ada, ini biasanya tiap 2 minggu datang sebanyak 10 buah, sekarang enggak ada," ucapnya.
Kendati begitu, Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menilai kekhawatiran publik soal pasokan plastik di dalam negeri, hingga membikin pengaruh rambatan kenaikan nilai peralatan lain tidak berdasar jika memandang kondisi riil di lapangan. Ia menyebut suplai bahan baku tetap kondusif untuk menopang kebutuhan industri nasional nan terus meningkat.
"Bahan baku plastik tersedia sangat memadai di industri dalam negeri. Karena itu, kita tidak perlu khawatir. Perusahaan-perusahaan nan memerlukan plastik dapat mencarinya dari produsen dalam negeri," kata Riza dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Sementara itu Ketua Asosiasi Biaxially Oriented Films Indonesia (ABOFI) Santoso Samudra Tan memandang rumor kelangkaan lebih banyak dipicu sentimen pasar dibanding kondisi nyata pasokan.
"Perlu digarisbawahi bahwa nan terdampak secara langsung adalah biji plastik, nafta, dan bahan baku utama bagi industri plastik. Namun, dari sisi ketersediaan, bahan baku tetap relatif kondusif dan produksi tetap melangkah lancar," ujar Santoso.
Ia mengingatkan agar persepsi kelangkaan tidak mendorong kebijakan nan justru membuka keran impor produk jadi secara berlebihan, lantaran berisiko menekan industri hilir domestik.
"Jika impor hanya berupa bahan baku seperti biji plastik tetap dapat diterima. Namun, jika impor sudah mencakup produk jadi, maka ini berpotensi merugikan industri hilir dalam negeri nan sebenarnya tetap mempunyai kapabilitas produksi nan memadai," dia menegaskan.
(arj/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·