Bertemu Putin, RI Buka Peluang Kerja Sama Nuklir dan Pangan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia membuka kesempatan memperluas kerja sama dengan Rusia di sektor daya dan pangan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mencapai swasembada daya sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ketidakpastian global.

Sinyal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono saat mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam ASEAN-Russia Commemorative Summit di Kazan, Rusia, Kamis (18/6/2026). Dalam forum nan dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin dan para pemimpin ASEAN itu, Sugiono menegaskan Indonesia tengah mengejar sasaran swasembada daya dalam tiga tahun ke depan.

"Indonesia, untuk bagiannya, berkomitmen mencapai swasembada daya dalam tiga tahun ke depan. Kami mempercepat pengembangan daya terbarukan dan mengeksplorasi semua opsi nan tersedia, termasuk penggunaan nan kondusif dan tenteram dari teknologi nuklir sipil," kata Sugiono dalam pidatonya.

Menurut Sugiono, Rusia dapat menjadi mitra krusial dalam memperkuat ketahanan daya kawasan. Sebagai salah satu produsen daya terbesar dunia, Rusia dinilai mempunyai kapabilitas untuk mendukung diversifikasi sumber daya dan memperkuat rantai pasok.

"Sebagai produsen daya utama, Rusia dapat menjadi mitra krusial dalam memperkuat ketahanan daya ASEAN. Kami mencari kerja sama nan dapat mendiversifikasi sumber energi, memperkuat rantai pasok, dan melindungi area kami dari guncangan eksternal," ujarnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan para pemimpin ASEAN berpotret berbareng dalam ASEAN-Russia Commemorative Summit di Kazan, Rusia, Kamis (18/6/2026). (dok. Kementerian Luar Negeri RI)Presiden Rusia Vladimir Putin dan para pemimpin ASEAN berpotret berbareng dalam ASEAN-Russia Commemorative Summit di Kazan, Rusia, Kamis (18/6/2026). (dok. Kementerian Luar Negeri RI) Foto: Kementerian Luar Negeri RI

Sugiono menambahkan pengalaman Rusia dalam pengembangan teknologi nuklir sipil dapat menjadi fondasi kuat bagi kerja sama kedua negara. Indonesia, kata dia, mencari kemitraan nan mencakup transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penerapan standar keselamatan internasional tertinggi.

Selain energi, Indonesia juga meletakkan perhatian besar pada sektor pangan. Dalam pidatonya, Sugiono menyoroti peran Rusia sebagai salah satu produsen utama gandum dan pupuk bumi nan dinilai strategis untuk mendukung ketahanan pangan ASEAN.

"Yang tidak kalah krusial adalah peran Rusia sebagai produsen utama gandum dan pupuk. Kita kudu bekerja sama untuk memastikan pasokan nan stabil dan dapat diprediksi bagi pasar ASEAN," kata Sugiono.

Ia menegaskan tujuan kerja sama tersebut adalah melindungi sistem pangan dari beragam gangguan eksternal nan dapat mengganggu pasokan dan memicu gejolak nilai komoditas.

"Tujuan kami jelas, ialah melindungi sistem pangan dari gangguan eksternal," ujarnya.

Sugiono menambahkan bahwa akses terhadap pangan nan terjangkau dan bergizi kudu dapat dijangkau oleh setiap rumah tangga. Karena itu, stabilitas pasokan pangan dan pupuk menjadi salah satu agenda nan mau diperkuat Indonesia dalam hubungan dengan Rusia.

Dalam forum tersebut, Sugiono juga menegaskan ASEAN bakal terus membangun kemitraan dengan beragam negara berasas prinsip saling menghormati, saling menguntungkan, dan bebas dari politik blok. Menurutnya, kerja sama ASEAN-Rusia nan telah terjalin selama 35 tahun kudu terus diperkuat untuk mendukung ketahanan, kemakmuran, dan stabilitas kawasan.

(tfa/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News