Berjalan 20 KM, Kakek di Kudus Tawarkan Es Sirup Demi Sesuap Nasi untuk Keluarga

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Agus Rudi (66) saat berkeliling berdagang es sirup di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Mendorong gerobak sepanjang 20 kilometer sehari-hari menjadi aktivitas rutin seorang kakek pedagang es sirup berjulukan Agus Rudi (66). Setiap langkah kecilnya terbesit angan agar jualannya laku demi sesuap nasi untuk keluarganya.

Langkah demi langkah dilakukan Agus Rudi berbareng dengan sandal jepit nan sudah usang. Gerobak dia sorong dari satu letak ke letak lainnya sembari berambisi ada pengguna nan memanggilnya.

Agus-sapaan akrabnya itu tampak mendorong gerobak kecilnya di sepanjang jalan nan berada di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9) siang.

Setiap harinya, Agus mendorong gerobak es sirup miliknya. Ia melintasi beragam desa dengan melangkah kaki sembari mendorong gerobak. Keriput tubuhnya dan warna putih rambutnya tak lagi dapat disembunyikan.

Berbekal semangat, Agus mendorong gerobaknya mulai dari kediamannya di Desa Rendeng menuju Desa Megawon, Desa Gulang, Desa Loram Wetan, Desa Loram Kulon, Desa Mlati Kidul, Desa Getas Pejaten dan kembali ke Desa Rendeng.

Agus Rudi (66) membikin es sirup dari atas gerobak sederhana di pinggir jalan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Rute panjang itu sengaja dipilihnya lantaran lumayan ramai pembeli. Oleh lantaran itu, dia mengaku tak masalah meski kudu melangkah 20 kilometer setiap hari. Bahkan belum tentu sepekan sekali dirinya libur.

"Sehari saya PP (pulang pergi, red) 20 kilometer mendorong gerobak jualan es sirup. Sudah saya jalani sejak 2015 sampai sekarang demi mencari duit untuk makan," katanya kepada kumparan, Jumat (4/9) siang.

Seporsi es sirup seharga Rp 2.500 itu menjadi mata pencahariannya sehari-hari. Ia tak mau merepotkan kedua anaknya. Apalagi salah satu anaknya baru saja terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sementara istrinya sudah meninggal.

Sejak 2015, gerobak sederhana itulah nan menemaninya menyusuri jalan. Dahulu gerobaknya berupa kayu. Kini, gerobaknya sudah diubah berkah support bank pelat merah.

"Dari dulu memang keliling menggunakan gerobak. Kalau jualan di pinggir jalan tidak laku. Suka dukanya ya kadang sepi, pulang tidak bawa uang," terangnya.

Agus Rudi (66) membikin es sirup dari atas gerobak sederhana di pinggir jalan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Kalau sedang ramai, dia bisa membawa untung Rp 60 ribu. Nominal itu dari hasil berdagang pukul 06.00 WIB sampai 17.30 WIB. Terkadang ada waktu di mana dia tak membawa duit sama sekali.

"Kalau dibilang cuaca panas ya panas. Tetapi mau gimana lagi kudu cari duit demi bisa makan, nan krusial bisa untuk makan. Semoga semakin banyak nan beli," imbuhnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan