Berawal dari Online, Brand Fesyen Anak Ini Bisa Ekspor ke Singapura-Malaysia

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Seorang pekerja menyelesaikan proses pembuatan produk fesyen anak di Gudang Little Fresco, Cengkareng, Jakarta, Kamis (30/7/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Di tengah persaingan industri fesyen anak nan didominasi merek-merek besar, brand asal Jakarta berjulukan Little Fresco memilih mengambil jalan berbeda. Alih-alih bersaing di produk massal, merek ini konsentrasi menggarap ceruk pasar busana dan aksesori anak laki-laki.

Owner Little Fresco, Vincent Phandinata, mengatakan bisnisnya berasal dari pengembangan lini busana laki-laki dewasa nan telah lebih dulu dijalankan sejak 2016.

"Jadi sepanjang itu nan kepikiran mencari nan lebih anak-anak. Kita kan kelihatannya kita bisa kerjain gitu dan ada potensi lah. Ya kita coba," ujar Vincent kepada wartawan di tokonya, Jakarta Barat, Kamis (30/7).

Sejak awal, Little Fresco memang memposisikan diri sebagai brand nan konsentrasi pada busana kasual anak laki-laki. Sekitar 80 persen koleksinya ditujukan mulai dari kaus, kemeja, celana hingga beragam aksesori seperti dasi, suspender, bow tie, topi, dan pocket square.

Vincent mengungkap aksesori justru jadi salah satu pembeda utama dibandingkan pesaing lain di pasaran. Menurutnya, pasar aksesori anak tetap relatif sedikit digarap, sementara permintaannya tetap ada, terutama pada momen tertentu seperti kelulusan sekolah, seremoni hari besar, hingga aktivitas formal.

Selain itu, Vincent juga menawarkan ukuran nan lebih spesifik sesuai usia anak sehingga busana dan aksesori bisa dikenakan dengan lebih pas.

"Kita punya salah satu aksesorisnya ya produk turunannya, jika untuk nan kaos, kita nilai lebihnya itu ya tematik dalam makna ketika 17an (Kemerdekaan) kita banyak [pesanan]," katanya.

Tak hanya mengandalkan produk, perusahaan juga rutin memperbarui kreasi sesuai tema tertentu, seperti Hari Kemerdekaan, Natal, Tahun Baru, maupun kebutuhan sekolah. Katanya, strategi ini membikin koleksi Little Fresco tetap relevan meski jenis produknya tidak terlalu banyak.

Untuk proses produksi, perusahaan mengerjakan sendiri kreasi aksesori, sablon, jahit, hingga quality control. Sementara beberapa produk busana diproduksi melalui skema kerja sama dengan mitra manufaktur.

Meski menyasar pasar niche, Vincent mengatakan upaya nan digelutinya bisa mencatatkan omzet lebih dari Rp 50 juta per bulan, dengan kebanyakan penjualan berasal dari kanal daring.

Seorang pekerja menyelesaikan proses pembuatan produk fesyen anak di Gudang Little Fresco, Cengkareng, Jakarta, Kamis (30/7/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Setelah sempat membuka beberapa gerai di pusat perbelanjaan seperti Kelapa Gading, Little Fresco sekarang lebih memilih memusatkan penjualan melalui e-commerce. Kata dia, sekitar 95 persen penjualan perusahaan berasal dari Shopee.

"Kalau untuk penjualan memang kita boleh ngasih 90, nan orang market pokoknya jauh banget, mungkin 95 persen di online Shopee,” ungkap Vincent.

Menurutnya, keputusan menetap pada toko daring diambil lantaran biaya operasional toko bentuk jauh lebih besar, sementara karakter produk Little Fresco lebih banyak dicari secara spesifik oleh konsumen melalui pencarian di e-commerce.

Toko milik Vincent ini juga aktif memanfaatkan fitur live shopping dan program hubungan untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.

Lebih lanjut, Vincent menyebut Little Fresco mulai menjual produknya ke luar negeri melalui Shopee nan dinilainya memudahkan pelaku UMKM mengakses pasar internasional tanpa proses manajemen nan rumit.

"Kalau untuk nan lokal kita bisa lihat ada sih beberapa customer loyal sih. Kalau nan itu [ekspor] kan kita nggak begitu bisa terlihat orang nan sama alias nggak gitu. Cuman jika untuk negaranya ya itu-itu aja sih, Singapura-Malaysia,” lanjut dia.

Seorang pekerja memasarkan dagangannya melalui media sosial di Gudang Little Fresco, Cengkareng, Jakarta, Kamis (30/7/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menurut Vincent, proses ekspor lewat Shopee tidak jauh berbeda dibandingkan melayani pesanan domestik.

"Betul, nggak ribet sama sekali. Sama-sama seperti kayak kita processing aja. Cuman labelnya beda aja gitu,” tuturnya.

Saat ini, pesanan dari luar negeri memang belum sebesar pasar domestik. Tapi, Little Fresco secara rutin menerima order dari Singapura dan Malaysia, apalagi sesekali dari Brunei.

Di tengah pelemahan daya beli masyarakat dan kenaikan nilai bahan baku dalam beberapa waktu terakhir, Vincent mengakui margin upaya ikut tertekan. Kenaikan nilai tekstil, plastik, hingga material bungkusan membikin perusahaan kudu melakukan efisiensi.

"Kebetulan kita kan retail dan kita ada sedikit margin nan bisa ditahan dulu lah. Jadi enggak jika naik gila-gila semacam seperti itu,” jelas Vincent.

Daripada meningkatkan nilai jual, Vincent memilih memangkas anggaran pemasaran sembari mempertahankan kualitas produk agar tetap kompetitif di pasaran.

"Dampak sih ujung-ujungnya pasti margin bakal turun. Dari segi omzet pun, dari segi penjualan juga sedikit turun juga. Jadi kena kiri-kanan, cuman ya ujung-ujungnya tetap cari stabil lah kita,” sebutnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan