Beras Jadi Penyumbang Inflasi Agustus 2026, Amran Tunjuk Penyebabnya

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Subang, CNBC Indonesia - Beras kembali menjadi salah satu komoditas nan memberikan tekanan terhadap inflasi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi inti Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 2,92% secara tahunan (year on year/yoy), naik dari 2,17% pada Agustus 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan komponen inflasi inti memberikan andil terbesar terhadap inflasi Agustus 2026.

"Inflasi inti secara tahunan 2,92%, dengan komponen ini andilnya terbesar, ialah 1,87%," kata Ateng dalam konvensi pers, Selasa (1/9/2026).

BPS mencatat sejumlah komoditas nan memberikan andil terhadap inflasi inti pada Agustus 2026, di antaranya emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, pelumas alias oli mesin, hingga laptop alias notebook.

Sementara itu, pada komponen nilai pangan bergolak alias volatile food, BPS mencatat inflasi sebesar 4,06% yoy. Kenaikan nilai daging ayam ras, beras, cabe rawit, daging sapi, dan cabe merah menjadi sejumlah pendorongnya.

Secara keseluruhan, inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19% yoy.

Menanggapi kembali masuknya beras sebagai salah satu penyumbang tekanan inflasi, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah tetap melakukan pengecekan untuk mengetahui penyebabnya. Dia menilai kenaikan tersebut tidak disebabkan oleh persoalan stok beras nasional.

"Kemarin salah satu kami cek ya,karena stok banyak kan, berfaedah bukan lantaran stok kan (inflasinya), lantaran beras banyak. Masalahnya adalah sementara kita selidiki," kata Amran saat ditemui di BRMP Padi Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Rabu (2/9/2026).

Amran kemudian menyoroti persoalan beras fortifikasi nan menurutnya ditemukan tidak sesuai ketentuan. Dia menyebut berasas hasil pemeriksaan laboratorium, terdapat 90% beras fortifikasi nan diperiksa bermasalah.

"Sesuai hasil laboratorium, 90% nan kita cek beras fortifikasi melanggar," ujarnya.

Menurut dia, persoalan tersebut berpotensi membikin nilai beras nan dijual kepada masyarakat jauh lebih tinggi dibandingkan nilai beras biasa.

"Bayangkan, itu disampaikan beras fortifikasi ini bervitamin, rupanya tidak ada, dan dijual nilai ada Rp56.000 (per kg) ada Rp42.000 (per kg), rata-ratanya Rp22.000 (per kg) dia jual," terang dia.

Amran menilai selisih nilai tersebut sangat besar. Dia apalagi mengaitkannya dengan potensi tekanan terhadap inflasi andaikan beras dengan nilai tinggi tersebut beredar dalam jumlah besar.

"Katakanlah nilai beras (medium) Rp13.000 (per kg) itu selisihnya dengan (beras fortifikasi nan dijual) Rp22.000 per kg. Jadi ini penipuan kan," kata Amran.

Dia pun meyakini penjualan beras dengan nilai nan jauh lebih tinggi tersebut, menjadi salah satu aspek pendorong inflasi.

"Nah itu luar biasa menambah kan, harusnya harganya Rp13.500 (per kg), dia jual Rp40.000 (per kg). Menurut Anda menambah inflasi nggak? Penyumbang nggak? Nah itu (penyebabnya)," pungkasnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News