
Selena Gomez. (Foto: Instagram/@selenagomez)
PENGAKUAN penyanyi sekaligus aktris Selena Gomez mengenai kebiasaan menggunakan vape nan mengandung nikotin menarik perhatian publik. Bintang Only Murders in the Building tersebut mengungkapkan bahwa penggunaan nikotin dalam jumlah banyak telah memengaruhi suaranya.
Selena Gomez juga mengaku baru saja berakhir menggunakan nikotin. Kini, dia berambisi dapat mempertahankan keputusannya.

Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai akibat rokok elektrik alias vape terhadap kesehatan suara. Benarkah kebiasaan vaping dapat membikin bunyi menjadi lebih berat, serak, alias apalagi mengalami kerusakan permanen?
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan aerosol vape berpotensi mengiritasi saluran pernapasan dan memengaruhi jaringan laring. Namun, bukti ilmiah mengenai akibat langsung vaping terhadap pita bunyi manusia tetap berkembang. Karena itu, perubahan bunyi nan dialami Selena tidak dapat dipastikan hanya disebabkan oleh kebiasaan vaping.
1. Pengakuan Selena Gomez tentang Perubahan Suaranya
Dilansir dari Reuters, Selena mengungkapkan bahwa dirinya pernah banyak menggunakan vape nikotin. Ia mengatakan bahwa kebiasaan tersebut telah mengubah suaranya dan mengakui bahwa nikotin sangat susah dihentikan.
Selena juga menyampaikan pesan kepada orang-orang nan sedang berupaya berakhir menggunakan nikotin agar tidak menyerah dalam prosesnya. Meski demikian, perubahan bunyi Selena perlu dilihat dalam konteks kesehatannya secara keseluruhan.
Selena Gomez diketahui menderita lupus, penyakit autoimun nan dapat menyebabkan peradangan pada beragam bagian tubuh. Selena sebelumnya juga pernah menjelaskan bahwa tenggorokannya terkadang mengalami pembengkakan.
Lupus berpotensi memengaruhi kualitas bunyi andaikan peradangan melibatkan laring. Selain itu, perubahan bunyi dapat terjadi secara alami seiring bertambahnya usia alias dipengaruhi oleh aspek kesehatan lainnya.
Dengan demikian, belum ada dasar nan cukup untuk menyimpulkan bahwa vaping merupakan satu-satunya penyebab perubahan bunyi Selena Gomez. Tapi, mari mengenal lebih jauh juga apa itu vape, kandungannya, dan dampaknya bagi kesehatan.
2. Apa Itu Vape dan Apa Saja Kandungannya?

Dilansir dari Center for Vocal Health, vape merupakan perangkat elektronik nan memanaskan cairan untuk menghasilkan aerosol nan kemudian dihirup penggunanya. Cairan tersebut sering disebut e-liquid alias e-juice.
Kandungan cairan vape bervariasi, tetapi umumnya dapat mencakup nikotin, unsur adiktif nan dapat menyebabkan ketergantungan. Kemudian, ada propilen glikol, bahan pembawa nan membantu menghasilkan aerosol.
Ada juga gliserin nabati, bahan nan digunakan untuk menghasilkan aerosol. Bahan perasa, nan memberikan rasa tertentu pada produk juga terkandung di dalamnya. Hingga senyawa lain, termasuk unsur nan dapat terbentuk alias berubah selama proses pemanasan.
Aerosol vape bukan sekadar uap air. Kandungannya dapat mencakup partikel lembut dan senyawa kimia nan berpotensi mengiritasi saluran pernapasan. Jenis dan jumlah unsur nan terhirup berjuntai pada komposisi cairan, perangkat, serta langkah penggunaannya.
Nikotin juga tidak selalu ditemukan dalam semua produk vape, tetapi banyak produk mengandung unsur tersebut dalam konsentrasi nan dapat menimbulkan ketergantungan.
3. Bagaimana Vape Dapat Memengaruhi Pita Suara?
Untuk memahami dampaknya, krusial mengetahui gimana bunyi manusia dihasilkan. Pita bunyi alias lipatan vokal berada di dalam laring, tepatnya di bagian saluran pernapasan atas.
Ketika seseorang berbicara, udara dari paru-paru melewati pita bunyi dan membuatnya bergetar. Getaran ini menghasilkan bunyi nan kemudian dibentuk oleh tenggorokan, rongga mulut, dan struktur lainnya.
Pita bunyi mempunyai lapisan jaringan nan lembut dan fleksibel. Agar bunyi terdengar jernih, kedua pita bunyi perlu bergetar secara teratur.
Ketika aerosol vape melewati laring, zat-zat di dalamnya berpotensi mengiritasi lapisan jaringan tersebut. Iritasi dapat memicu peradangan alias pembengkakan nan mengganggu pola getaran pita suara.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami beberapa perubahan, antara lain bunyi serak alias kasar, akibat perubahan pada permukaan dan getaran pita suara. Kemudian, seseorang juga bisa alami bunyi mudah lelah, terutama setelah berbincang alias menyanyi dalam waktu lama.
Penurunan jangkauan vokal, sehingga nada tinggi alias rendah tertentu terasa lebih susah dicapai. Batuk dan iritasi tenggorokan, nan dapat menambah beban pada pita suara. Serta perubahan kualitas suara, termasuk bunyi nan terdengar berbeda dari biasanya.
Gejala-gejala tersebut tidak selalu dialami setiap pengguna vape. Tingkat akibat juga dapat dipengaruhi oleh gelombang penggunaan, jenis produk, kondisi kesehatan, dan paparan iritan lainnya.
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·