Benarkah Burnout Bisa Picu Nirempati?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Benarkah Burnout Bisa Picu Nirempati?

Benarkah Burnout Bisa Picu Nirempati? (Foto: Freepik)

JAKARTA - Burnout alias kelelahan akibat tekanan pekerjaan kerap dikaitkan dengan menurunnya empati seseorang, termasuk pada tenaga kesehatan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini dapat membikin seseorang lebih susah memahami emosi orang lain sehingga respons nan muncul terkesan dingin alias apalagi nirempati.

Melansir laman Pubmed Central, dalam satu dasawarsa terakhir, beragam riset mengenai empati di jasa kesehatan menemukan bahwa keahlian tenaga medis untuk memahami kondisi pasien berkedudukan krusial dalam meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus kepuasan pasien. Sikap nan humanis, komunikasi nan baik, dan kesediaan mendengarkan menjadi aspek nan paling dihargai pasien saat menjalani konsultasi.

Beragam penelitian juga menunjukkan bahwa master nan bisa berkomunikasi secara empatik condong lebih mudah membangun hubungan dengan pasien. Dampaknya tidak hanya meningkatkan rasa percaya, tetapi juga membantu pasien merasa lebih berkekuatan dalam menjalani pengobatan serta memperbaiki kondisi kesehatannya.

Namun, keahlian tersebut dapat menurun ketika tenaga kesehatan mengalami burnout. Kondisi ini muncul akibat tekanan pekerjaan nan berkepanjangan hingga menyebabkan kelelahan emosional, fisik, dan mental.

Burnout Disebut Dapat Menurunkan Empati

Burnout pada tenaga kesehatan telah menjadi perhatian di beragam negara. Sejumlah penelitian menyebut sekitar satu dari tiga master umum pernah mengalami burnout.

Salah satu karakter burnout adalah munculnya sikap depersonalisasi, ialah kecenderungan menjaga jarak secara emosional dari pasien. Akibatnya, tenaga kesehatan menjadi lebih susah menempatkan diri pada posisi pasien dan condong mengurangi keterlibatan emosional selama memberikan pelayanan.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com