Belum Sembuh, Sudah Mulai Lagi: Efek Hubungan Toxic di Masa Lalu

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Foto: Pexels/RDNE Stock project

Banyak orang mengira hubungan baru adalah lembaran baru. Secara teori iya, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Hubungan toxic di masa lampau sering meninggalkan jejak nan diam-diam terbawa ke hubungan berikutnya, bukan lantaran ingin, tapi lantaran belum selesai.

Pengalaman disakiti, dimanipulasi, alias diremehkan bisa membentuk langkah seseorang memandang cinta. nan dulu sering disalahkan bakal jadi lebih defensif. nan pernah dikhianati condong susah percaya. Bahkan, perihal mini bisa terasa seperti ancaman lantaran otak sudah “terlatih” untuk waspada. Masalahnya, respons ini sering muncul bukan lantaran pasangan sekarang salah, tapi lantaran luka lama belum betul-betul pulih.

Di sisi lain, ada juga nan justru mengulang pola nan sama. Tanpa sadar, seseorang tertarik lagi pada jenis pasangan nan mirip dengan masa lalunya, nan manipulatif, tidak konsisten, alias emosionalnya tidak stabil. Bukan lantaran tidak belajar, tapi lantaran pola itu terasa “familiar”. Ini nan berbahaya: luka lama bukan hanya dibawa, tapi juga direproduksi.

Akibatnya, hubungan baru jadi tidak sehat sejak awal. Komunikasi dipenuhi kecurigaan, overthinking, alias apalagi sikap posesif. Pasangan nan sebenarnya tidak bermasalah bisa ikut terdampak, merasa tidak dipercaya, alias terus-menerus disalahkan atas sesuatu nan bukan tanggung jawabnya.

Namun, ini bukan berfaedah seseorang nan pernah ada di hubungan toxic tidak bisa punya hubungan sehat. Bisa, asal sadar. Kuncinya ada di refleksi diri dan keberanian untuk mengakui bahwa ada luka nan belum selesai. Menyembuhkan diri bukan proses instan, tapi itu perlu sebelum masuk lebih jauh ke hubungan baru.

Hubungan nan sehat bukan tentang menemukan orang nan sempurna, tapi tentang dua orang nan sama-sama sadar diri dan mau bertanggung jawab atas emosinya masing-masing. Masa lampau memang tidak bisa dihapus, tapi tidak kudu terus mengendalikan masa depan.

Kalau tidak disadari, hubungan toxic di masa lampau bakal terus “hidup” di hubungan berikutnya. Tapi jika dihadapi dengan jujur, justru bisa jadi pelajaran paling berbobot untuk membangun hubungan nan lebih sehat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan