Belajar Membaca “Aksara Langit”

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Ilustrasi berdoa. Foto: Shutterstock

Doa nan Dipentaskan dari Alat Dapur

Di tengah era nan serba rasional, saat hujan diprediksi lewat layar ponsel dan musim tak lagi sepenuhnya dibaca dari tanda alam, tetap ada satu tradisi nan berdiri teguh di perspektif Banyumas: Cowongan. Di tangan Bapak Titut Edi Purwanto nan berkawan disapa Mbah Titut, tradisi pemanggil hujan ini tidak dibiarkan tenggelam sebagai cerita masa lalu. Ia menghidupkannya kembali sebagai seni pagelaran nan menyimpan ingatan kolektif tentang langkah manusia memaknai alam.

Cowongan berakar dari masa paceklik, saat hujan menjadi sesuatu nan dinanti dengan penuh pergulatan batin. Dalam ritualnya, masyarakat tidak sekadar “meminta hujan”, tetapi juga berbincang dengan kehidupan melalui simbol-simbol sederhana seperti siwur (gayung), irus (centong sayur), hingga batok kelapa nan dirangkai menyerupai sosok seorang putri. Dari benda-benda dapur nan berkawan dengan keseharian inilah, lahirlah sebuah angan nan dipentaskan.

Mbah Titut saat merefleksikan makna “Aksara Langit” di kediamannya. Foto: Dokumentasi pribadi

Bagi Mbah Titut, Cowongan tidak pernah berakhir pada urusan langit nan menurunkan air, tetapi lebih dalam dari itu. Tradisi ini adalah langkah membaca kehidupan, tentang gimana manusia berbaikan dengan keterbatasan, merawat harapan, dan tetap menjaga hubungan dengan semesta di tengah bumi nan kian serba cepat.

Menafsir Pesan dalam "Aksara Langit"

Melalui filosofi nan dia sebut sebagai "aksara langit", Mbah Titut memandang bahwa pengetahuan pengetahuan sejati berakar pada keahlian manusia untuk berkaca pada alam. Baginya, pengetahuan tidak berdiri semata dari logika nan bekerja sendiri, tetapi juga dari perjumpaan antara logika budi dan kesadaran terhadap semesta nan terus berbincang dalam diamnya. Langit, menurut Mbah Titut, tidak hanya membentang di atas kepala, tetapi juga datang di dalam diri manusia sebagai ruang sunyi nan perlu dibaca dan dipahami.

Mbah Titut membujuk kita berakhir sejenak dari hiruk-pikuk duniawi untuk memandang tanda-tanda alam. Menurutnya, setiap fenomena—mulai dari cuaca nan cerah hingga gunung nan menjulang tinggi—adalah pesan nan perlu dibaca dengan kesadaran spiritual.

“Merenung itu penting. Setiap pagi kita bisa memandang gunung nan indah, merasakan cuaca nan cerah. Cara orang dulu berbeda, mereka belajar dari apa nan mereka lihat di sekitar,” ungkapnya dengan nada reflektif, penuh ekspresi saat menyampaikan makna nan dia yakini.

Mbah Titut memaknai ritual pemanggil hujan melalui filosofi "aksara langit", layaknya menafsir kisah Dewi Masinten. Dalam cerita rakyat, sang dewi memang digambarkan sebagai penunggu sumber air (sendang) alias rimba nan lembap. Namun bagi Mbah Titut, dia melampaui figur mitologis; Dewi Masinten adalah personifikasi air hujan dan simbol kesuburan nan menghidupkan harapan. Setiap perincian kisahnya ditafsirkan selaras dengan irama hidup manusia sebagai "sasmita" alias petunjuk dari "atas" mengenai nasib dan perjalanan eksistensial masyarakat Jawa.

Seni nan Mengganggu

Representasi visual Cowongan dalam corak lukisan. Foto: Dokumentasi pribadi

Mbah Titut teguh menjaga nyala kesenian cowongan. Bertahun-tahun dia mendalami dan menafsirkan makna dalam setiap elemennya. Namun, jalan nan dia tempuh tidak selalu mulus.

Di mata sebagian masyarakat modern, praktik seperti ini kerap dipandang sebelah mata. Stigma misterius hingga dianggap using tak jarang menghampiri. Namun bagi Mbah Titut, penolakan justru menandakan bahwa seni tersebut tetap hidup.

“Kalau seni itu tidak mengganggu, mungkin dia tidak hidup, karena seni nan apik tidak sekadar memanjakan mata, tetapi juga mengusik pikiran,” tegasnya. Bagi Mbah Titut, seni tradisi memang semestinya "mengganggu" kenyamanan berpikir manusia modern agar mereka mau menoleh kembali pada akar budaya dan nilai-nilai nan mulai terlupakan.

Melalui perjalanan panjangnya, Mbah Titut menyisipkan pesan sederhana, tetapi mendalam bagi generasi muda: pentingnya menyeimbangkan kepintaran logis dengan kepintaran spiritual. Baginya, menjaga tradisi adalah menjaga keberlanjutan hidup itu sendiri. Di tengah bumi nan bergerak cepat, keahlian untuk merenung dan membaca “aksara langit” menjadi langkah agar manusia tidak kehilangan makna.

Seperti nan dia yakini, seni bukan sekadar tontonan, melainkan juga pengalaman jiwa nan mengusik, menggugat, dan perlahan mengubah langkah kita memaknai kehidupan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan