Belajar dari Kasus Nenek di Cakung Dirampok, Siskamling Dinilai Perlu Dihidupkan

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Nenek Hartati (61) korban perampokan di rumahnya di Kampung Pisangan, Jalan Makmur, RT01/RW04, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, Senin (3/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino mengecam keras tindakan perampokan disertai penyekapan terhadap seorang lansia, Hartati (61), di Cakung, Jakarta Timur, nan terjadi pada Minggu (2/8). Pelakunya tak lain tetangganya sendiri.

“Tindakan ini sangat bandel dan tidak mempunyai toleransi sedikit pun, apalagi jika diduga dilakukan oleh orang nan tetap bertetangga dengan korban,” kata Wibi kepada kumparan, Selasa (4/8).

Menurut Wibi, peristiwa tersebut bukan hanya melukai korban, tetapi juga merusak rasa kondusif dan kepercayaan di tengah masyarakat.

“Saya meminta kepolisian mengusut tuntas kasus ini, menangkap seluruh pelaku, dan memberikan balasan nan setimpal sesuai ketentuan hukum. Negara kudu datang memberikan perlindungan, khususnya bagi golongan rentan seperti lansia,” ucapnya.

Petugas gelar perkara mengenai kasus lansia nan jadi korban rampok tetangganya sendiri di Cakung, Jaktim. Foto: Dok. Istimewa
Petugas gelar perkara mengenai kasus lansia nan jadi korban rampok tetangganya sendiri di Cakung, Jaktim. Foto: Dok. Istimewa

Selain penegakan hukum, Wibi menilai kewaspadaan penduduk juga perlu diperkuat melalui pengaktifan kembali siskamling.

“Saya juga mengimbau masyarakat untuk memperkuat kepedulian lingkungan, mengaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling), dan segera melaporkan setiap aktivitas mencurigakan agar kejadian serupa tidak terulang. Jakarta kudu menjadi kota nan aman, terutama bagi para orang tua dan lansia,” tuturnya.

Nenek Hartati Dirampok Tetangga

Sebelumnya, seorang lansia berjulukan Hartati (61) menjadi korban perampokan saat sedang menunaikan salat Zuhur di rumahnya di Kampung Pisangan, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, Minggu (2/8).

Pelaku diketahui merupakan tetangga korban sendiri, Mahrum. Saat beraksi, pelaku menodongkan senjata tajam, melakban mulut, tangan, dan kaki korban, serta menakut-nakuti bakal membunuhnya andaikan berteriak.

"Jangan teriak. Diam. Gue baru keluar dari penjara. Kalau teriak gue bunuh sekalian. Gue ngelakuin ini buat ngasih makan anak bini," ujar Hartati menirukan ucapan pelaku, kepada kumparan, Senin (3/8).

Pelaku kemudian membawa kabur telepon genggam milik korban, duit tunai Rp 600 ribu, dan sepasang anting nan tetap dikenakan Hartati.

Setelah pelaku kabur, Hartati berupaya membebaskan diri dengan meloncat ke dapur untuk mengambil pisau dan memotong lakban nan mengikat kakinya. Ia kemudian meminta pertolongan kepada Ketua RT setempat.

"Namanya kaki dilakban, akhirnya saya loncat-loncat. Di dapur ada pisau, saya pangkas aja lakbannya, terus buru-buru keluar langsung ke Pak RT minta tolong," jelasnya.

"Masih keadaan pakai mukena. Saya enggak lepas biar jadi peralatan bukti jika saya memang lenyap dirampok," lanjutnya.

Berdasarkan laporan korban, polisi bergerak ke rumah pelaku nan berjarak sekitar 50 meter dari rumah Hartati. Mahrum sukses ditangkap beberapa jam setelah kejadian saat sedang tertidur di rumahnya.

Polisi tetap mendalami kasus tersebut dengan memeriksa korban, saksi, dan pelaku.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan