Bayi Terpapar Asap Karhutla, Orang Tua Wajib Kenali Tanda Bahaya Ini

Sedang Trending 3 hari yang lalu

ASAP kebakaran rimba dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan akibat kesehatan nan lebih besar bagi bayi dan anak-anak dibandingkan orang dewasa. Sistem pernapasan mereka tetap berkembang, sementara gelombang napas nan lebih sigap dapat membikin mereka menghirup lebih banyak udara relatif terhadap ukuran tubuhnya.

Dokter ahli paru dan pernapasan (pulmonolog) nan aktif berpraktik di Kalimantan Tengah, dr. Itna Warnida, Sp.P, FISRD, dalam aktivitas Morning Zone nan tayang di Youtube Okezone pun mengingatkan orangtua agar tidak menunggu sampai bayi mengalami batuk parah alias sesak napas untuk mencari pertolongan medis.

Perubahan perilaku sehari-hari, seperti berkurangnya nafsu makan dan gelombang menyusu, juga perlu diperhatikan. Paparan asap karhutla mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, nan dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

Pada kondisi tertentu, paparan tersebut dapat memperburuk gangguan pernapasan dan meningkatkan akibat masalah kesehatan. Lantas, apa saja perihal nan perlu diperhatikan terhadap anak di tengah paparan karhutla ini?

1. Mengapa Bayi dan Anak-Anak Lebih Rentan terhadap Asap Karhutla?

Menurut dr. Itna, bayi dan anak-anak mempunyai karakter pernapasan nan berbeda dari orang dewasa. Frekuensi napas normal orang dewasa saat beristirahat umumnya sekitar 12–20 kali per menit. Sementara itu, bayi dan anak-anak bernapas lebih cepat, meskipun rentang normalnya berbeda menurut usia.

Frekuensi napas nan lebih tinggi, ditambah ukuran tubuh dan paru-paru nan lebih mini serta sistem pernapasan nan tetap berkembang, membikin anak-anak lebih rentan terhadap akibat pencemaran udara.

Partikel PM2.5 berukuran sangat mini sehingga dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan partikel ini dapat memicu peradangan, memperburuk asma, dan menyebabkan gangguan pernapasan lainnya.

Risiko tersebut perlu mendapat perhatian unik ketika karhutla berjalan dalam waktu lama dan kualitas udara memburuk.

2. Jangan Tunggu Bayi Sesak Napas, Kenali Perubahan Perilakunya

Bayi belum dapat menyampaikan keluhan seperti orang dewasa. Karena itu, orangtua perlu mengenali perubahan perilaku nan mungkin menjadi tanda awal gangguan kesehatan.

Berikut beberapa tanda nan perlu diperhatikan ketika bayi berada di wilayah terdampak asap karhutla.

1. Bayi Tidak Menyusu Seperti Biasanya

Jika bayi tiba-tiba lebih jarang menyusu, menolak minum, alias tidak bisa menyusu sebanyak biasanya, orangtua perlu mencari tahu penyebabnya. Penurunan keahlian menyusu dapat terjadi lantaran beragam kondisi, termasuk gangguan pernapasan nan membikin bayi kesulitan mengoordinasikan aktivitas menyusu dan bernapas.

2. Bayi Terlihat Lebih Lemah

Bayi nan biasanya aktif tetapi mendadak terlihat lesu, kurang responsif, alias lebih susah dibangunkan perlu segera diperiksa. Kondisi tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai kelelahan biasa, terutama jika disertai penurunan asupan ASI alias susu, batuk, maupun perubahan pola napas.

3. Batuk nan Semakin Sering

Paparan asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu batuk. Jika batuk bayi semakin sering, tidak membaik, alias disertai demam dan kesulitan menyusu, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Bayi nan mengalami batuk tidak selalu berfaedah terkena akibat langsung karhutla lantaran jangkitan dan kondisi lain juga dapat menjadi penyebabnya. Pemeriksaan diperlukan untuk menentukan penyebab nan tepat.

4. Napas Cepat alias Tampak Sulit Bernapas

Orangtua perlu memperhatikan apakah napas bayi terlihat jauh lebih sigap daripada biasanya alias tampak memerlukan tenaga ekstra. Tanda ancaman antara lain dada bagian bawah tertarik ke dalam saat menarik napas, lubang hidung kembang-kempis, bunyi merintih saat bernapas, alias bibir tampak kebiruan.

Jika bayi mengalami kesulitan bernapas, tampak kebiruan, alias susah dibangunkan, segera bawa ke instalasi darurat darurat. Jangan menunggu sampai gejalanya semakin berat.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑