Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat sayur bayam menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi pada Maret 2026. Temuan ini dinilai tidak biasa lantaran pada periode sebelumnya komoditas hortikultura nan dominan umumnya adalah cabe alias bahan pangan utama lain.
Berdasarkan info BPS, bayam masuk dalam lima besar penyumbang inflasi bulanan dan menempati urutan keempat dengan andil sebesar 0,03 persen.
Plt Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan kenaikan nilai bayam diduga berangkaian dengan perubahan pola konsumsi masyarakat selama Ramadan. Selain itu, aspek musiman juga berkedudukan dalam mendorong perubahan nilai komoditas segar di pasar.
“Ya mungkin lantaran puasa ya, puasa itu biasanya mungkin ya ini kita belum sampai ke bidangnya itu, seger-seger seperti itu ya,” kata Endang kepada awak media usai konvensi pers rilis tersebut nan digelar pekan lalu, (1/4).
Selain bayam, BPS juga mencatat sejumlah komoditas lain nan turut mendorong inflasi Maret 2026, seperti bensin, daging ayam ras, tomat, dan emas perhiasan.
“Bayam dan tomat ini nan mungkin muncul ya, tadinya belum muncul, biasanya daging ayam ras, telur ayam ras,” ujarnya.
BPS juga menyoroti adanya perbedaan kontribusi emas perhiasan terhadap inflasi di wilayah DIY. Di Kabupaten Gunungkidul, komoditas ini menjadi penyebab inflasi, sementara di Kota Yogyakarta justru berkontribusi terhadap deflasi.
“Nah jika emas perhiasan ini di Gunungkidul penyebab inflasi, tapi di kota Yogyakarta ini penyebab deflasi. Nah seperti itu, jadi memang ada lag ya, ada lag masyarakat perkotaan, kota Yogyakarta perkotaan dengan masyarakat nan ada di Gunungkidul,” kata Endang.
Secara keseluruhan, inflasi bulanan (month to month) DIY tercatat sebesar 0,45 persen, sementara inflasi tahunan (year on year) mencapai 4,08 persen. Tekanan inflasi pada periode ini tetap didominasi oleh golongan makanan, minuman, dan tembakau.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·