Banyak pekerja berumur di bawah 35 tahun di Amerika Serikat (AS) kesulitan membeli rumah lantaran nilai properti nan kian melejit tak sejalan dengan pendapatan para pekerja.
Mengutip The Guardian Rabu (24/6), info terbaru dari Realtor.com, menunjukkan jumlah anak muda di AS nan tinggal berbareng orang tua mereka mencatatkan rekor tertinggi pada tahun 2025.
Biaya properti nan melambung tinggi membikin pencapaian untuk bisa hidup berdikari menjadi susah dijangkau.
Sepertiga dari golongan dewasa muda berumur antara 25-35 tahun alias sekitar 25,2 juta orang tercatat tinggal berbareng orang tua mereka pada tahun 2025.
Dari jumlah tersebut, 70 persen di antaranya sudah mempunyai pekerjaan dan banyak nan mengantongi gelar sarjana.
Kondisi ini menegaskan bahwa kejadian tersebut murni dipicu oleh mahalnya biaya tempat tinggal, bukan lantaran situasi pasar tenaga kerja nan buruk.
Berdasarkan info dari perusahaan real estate tersebut, median nilai sewa nasional saat ini sudah 18 persen lebih tinggi dibandingkan masa sebelum pandemi.
Sementara itu, median nilai penawaran rumah di pasar nasional juga melonjak hingga 34 persen lebih tinggi.
Ekonomi senior dari Realtor.com, Hannah Jones, menyatakan bahwa setiap orang dewasa nan tetap berada di bilik masa kecilnya menandakan ada sebuah rumah tangga baru nan kandas terbentuk.
"Kontrak sewa nan tidak ditandatangani [mahal], serta rumah pertama nan tidak jadi dibeli," kata Hannah.
Data terbaru ini mencerminkan sungguh beratnya kondisi ekonomi Amerika Serikat bagi generasi muda dan lulusan baru, khususnya sejak masa pandemi.
Sekitar 40 persen lulusan baru mengalami pengangguran terselubung, nan berfaedah mereka terpaksa mengambil pekerjaan nan tidak memerlukan gelar sarjana.
Sejak tahun 2020, tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi justru lebih tinggi dibandingkan golongan pekerja lainnya, sekaligus membalikkan tren nan sudah berjalan lama.
"Banyak anak muda juga melaporkan kesulitan ekonomi nan parah, mulai dari urusan mencari pekerjaan hingga mengembangkan pekerjaan mereka saat ini," tulis laporan The Guardian.
Menurut info nan dirilis pekan lampau oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, lonjakan inflasi nan sigap baru baru ini mencapai rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir sehingga menghapus kenaikan bayaran nan didapat pekerja selama setahun.
Tak Mampu Beli Rumah
Kondisi ini berpotensi menunda rencana anak muda untuk pindah dari rumah orang tua lebih lama lagi. Inflasi sendiri melonjak hingga 4,2 persen pada bulan Mei seiring perang di Timur Tengah nan memicu kenaikan nilai minyak dunia.
Jones menambahkan bahwa meskipun banyak anak muda bisa menghemat ribuan dolar lantaran tidak perlu bayar sewa, mereka juga kehilangan kesempatan alias menunda kepemilikan rumah pertama mereka.
"Padahal, kepemilikan rumah merupakan kunci utama penambah kekayaan sebuah keluarga. Saat ini, rata rata pembeli rumah pertama di Amerika Serikat sudah menyentuh usia 40 tahun," jelas laporan tersebut.
Tren ini juga membawa akibat berantai bagi para orang tua nan rumahnya tidak kunjung sepi. Jones menjelaskan bahwa orang tua mungkin terpaksa menunda masa pensiun mereka, membatalkan rencana untuk pindah ke rumah nan lebih kecil, alias terpaksa memangkas tabungan mereka demi menyokong anak anak mereka.
Di luar akibat sosial, emosional, dan finansial, kejadian ini turut memperparah krisis pasar properti di negara tersebut.
Sedikitnya anak muda nan masuk ke pasar rumah pertama membikin perputaran di sektor tersebut menjadi lesu. Menurut Jones, perihal ini memperketat pasokan nan sudah terbatas sekaligus mempersulit akses kediaman terjangkau bagi generasi muda lainnya.
Para analis di Realtor.com mempelajari tingkat anak muda nan tinggal berbareng orang tua sejak awal tahun 2000-an untuk dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun terakhir.
Mereka menemukan bahwa jika pola hidup berdikari dari dasawarsa terdahulu tetap bertahan. Jumlah anak muda nan menumpang di rumah orang tua saat ini semestinya berkurang sebanyak 4,86 juta orang.
Jones mengatakan info ini tidak terlalu mengejutkan lantaran semua pihak tahu apa nan sedang terjadi dengan keterjangkauan nilai kediaman saat ini.
Namun nomor ini sangat mencolok jika dibandingkan dengan norma nan bertindak pada awal tahun 2000-an, di mana nomor tersebut merangkak naik dari posisi 27 persen ke 28 persen hingga sekarang menyentuh 33 persen.
Tingkat lapangan kerja di golongan usia ini sebenarnya terpantau stabil selama beberapa dasawarsa terakhir. Jones kembali menekankan bahwa kejadian ini murni merupakan masalah krisis properti.
"Ini bukan masalah anak muda tidak punya pekerjaan lampau terpaksa pulang ke rumah orang tua," ujarnya.
Faktanya mereka mempunyai pekerjaan namun tinggal berbareng orang tua menjadi pilihan finansial paling masuk logika bagi mereka saat ini.
"Masalahnya bukan lantaran orang dewasa ini tidak mempunyai modal, melainkan lantaran mereka tidak mendapatkan kesempatan di pasar properti," tambah dia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·