Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Ekonom Bank Dunia (World Bank) Indermit Gill memperingatkan potensi krisis dunia baru nan dapat memicu lonjakan kelaparan. Konflik di Timur Tengah nan melibatkan Iran dinilai berpotensi menimbulkan akibat luas terhadap ekonomi dunia.
Dalam wawancara dengan AFP di sela Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia di Washington, Gill menyebut saat ini sekitar 300 juta orang telah mengalami kerawanan pangan akut. Angka tersebut berpotensi melonjak hingga 20% dalam waktu singkat akibat pengaruh domino dari konflik.
"Ada sekitar 300 juta orang nan sudah menderita kerawanan pangan akut. Jumlah itu bakal meningkat sekitar 20 persen dengan sangat cepat," ujar Gill, dikutip Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, gangguan di Selat Hormuz telah mendorong kenaikan nilai daya dan berakibat langsung pada lonjakan nilai pupuk nan berjuntai pada bahan baku berbasis minyak. Kenaikan nilai pupuk ini berisiko menekan produksi pertanian global.
Negara-negara produsen pangan pun berpotensi menahan ekspor dan meningkatkan stok domestik. Ini pada akhirnya memperparah kenaikan nilai pangan dunia.
"Larangan ekspor itu sangat menakutkan bagi kami," tegas Gill.
Menurutnya, akibat terparah bakal dirasakan negara-negara nan tengah dilanda bentrok alias mempunyai pemerintahan rapuh. Jika situasi terus berlarut, kelaparan massal berisiko terjadi.
"Jika situasi ini tidak segera diselesaikan, kelaparan bakal mulai melanda negara-negara ini secara besar-besaran," katanya.
Saat ini, tekanan akibat kekurangan petrokimia paling terasa di area Asia. Namun, Gill mengingatkan bahwa jika krisis berkepanjangan, dampaknya bakal sigap menyebar ke Afrika.
"Makanan nan ada di pasar saat ini sudah ditanam, tetapi akibat sebenarnya bakal terasa dalam beberapa bulan ke depan," jelasnya.
Di sisi makroekonomi, Bank Dunia juga memperingatkan potensi "pukulan ganda" berupa perlambatan pertumbuhan dan lonjakan inflasi global.
Gill memperkirakan inflasi dunia dapat meningkat dari sekitar 3% menjadi hingga 4,7% pada tahun ini dalam skenario terburuk jika bentrok berjalan hingga Agustus. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi terpangkas hingga 40%.
Kondisi tersebut bakal semakin membebani negara-negara berkembang, terutama nan mempunyai tingkat utang tinggi. Kenaikan inflasi, khususnya pada kebutuhan dasar seperti pangan dan energi, bakal paling berakibat pada golongan berpenghasilan rendah.
"Jika terjadi inflasi, terutama pada peralatan nan lebih sering dikonsumsi masyarakat miskin, dampaknya bakal sangat merugikan," ujar Gill.
Ia juga mengingatkan bahwa proyeksi pertumbuhan dunia saat ini bisa terlihat lebih optimistis lantaran ditopang oleh ekonomi besar seperti Amerika Serikat, China, dan India nan relatif lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Namun, ketika ketiga negara tersebut dikeluarkan dari perhitungan, kerentanan ekonomi dunia menjadi jauh lebih terlihat.
"Ketika Anda menghapus mereka dari perkiraan, Anda mulai memandang lebih banyak kerentanan," kata Gill.
"Dan omong-omong, skenario ekstrem itu, setiap hari berlalu, bukan lagi terlalu ekstrem, lantaran kita semakin dekat dengan bulan Agustus," pungkasnya menambahkan, skenario terburuk nan sebelumnya dianggap ekstrem sekarang semakin mendekati kenyataan.
(tfa/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·