Jakarta, CNBC Indonesia - World Bank alias Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7%,. Adapun, perkiraan Bank Dunia ini turun dari perkiraan sebelumnya 4,8%.
Dikutip dari East Asia and Pacific Economic Update jenis April 2026 nan dirilis pada Rabu (9/4/2026). Adapun, nomor tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan area Asia Timur dan Pasifik (EAP) nan hanya 4,2%.
Dari info Bank Dunia, EAP ini mencakup Kamboja, China, Indonesia, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Papua Nugini, Filipina, Thailand, Timor-Leste, Vietnam, dan Negara-Negara Kepulauan Pasifik.
Bank Dunia menegaskan pertumbuhan di area Asia Timur dan Pasifik (EAP) melambat pada tahun 2026 dipengaruhi oleh guncangan eksternal, menurut Laporan Pembaruan Ekonomi EAP Grup Bank Dunia nan dirilis hari ini.
"Pertumbuhan regional diproyeksikan melambat menjadi 4,2% pada tahun 2026 dari 5,0% pada tahun 2025, lantaran guncangan daya akibat bentrok Timur Tengah memperburuk akibat jelek dari peningkatan halangan perdagangan, ketidakpastian kebijakan global, dan kesulitan ekonomi domestik," ujar Carlos Felipe Jaramillo, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, dalam rilis, Rabu (9/4/2026).
Pertumbuhan di China, ekonomi terbesar di area ini, diproyeksikan melambat dari 5,0% pada tahun 2025 menjadi 4,2% pada tahun 2026 dan 4,3% pada tahun 2027, lantaran permintaan domestik nan lemah dan tantangan sektor properti terus berlanjut, dan perlambatan dunia meredam pertumbuhan ekspor.
Sementara itu, pertumbuhan di wilayah lain di area ini bakal melambat menjadi 4,1% pada tahun 2026 dan diproyeksikan bakal pulih menjadi 5,0% pada tahun 2027 seiring meredanya ketegangan geopolitik dan berkurangnya ketidakpastian.
"Pertumbuhan di Asia Timur dan Pasifik terus melampaui sebagian besar dunia, apalagi di masa-masa nan tidak pasti," kata Carlos.
"Namun, mempertahankan tingkat pertumbuhan memerlukan negara-negara untuk menghadapi tantangan struktural dan memanfaatkan kesempatan era digital untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja," sambungnya.
Aaditya Mattoo, Direktur Riset Grup Bank Dunia, mengatakan akibat bentrok Timur Tengah berjuntai pada ketergantungan masing-masing negara terhadap impor energi, kerentanan nan ada, dan elastisitas kebijakan ekonomi. Konflik nan berkepanjangan dan intensif dapat semakin meningkatkan kesulitan ekonomi dan mengurangi pertumbuhan regional.
Kenaikan nilai bahan bakar sebesar 50% secara berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan pendapatan sebesar 3-4% bagi rumah tangga di area tersebut. Dukungan nan tepat sasaran-baik untuk kaum miskin dan rentan maupun upaya mini dan menengah-dapat membantu mereka nan paling memerlukan tanpa menimbulkan beban fiskal.
"Ketahanan area di masa lampau sangat luar biasa, tetapi kesulitan saat ini dapat meningkatkan kesulitan ekonomi dan menghalang pertumbuhan produktivitas," kata Aaditya Mattoo.
"Dukungan terukur untuk masyarakat dan perusahaan dapat mempertahankan lapangan kerja saat ini dan menghidupkan kembali reformasi struktural nan terhenti dapat memicu pertumbuhan di masa depan," tambahnya.
ASEAN Belum Dapat 'Kue' Booming AI
Aaditya menekankan laporan Bank Dunia juga mengidentifikasi peningkatan ekspor dan investasi mengenai AI sebagai titik terang di tahun 2025, terutama di Malaysia, Thailand, dan Vietnam, serta Indonesia.
Menurut Bank Dunia, AI juga dapat mendorong pertumbuhan produktivitas nan lebih tinggi, tetapi mengambil di EAP (Electronic Applications/Application Programming/Application Programming) tetap terbatas lantaran kesenjangan dalam konektivitas dan keterampilan.
Adapun, hanya 13 hingga 17% anak perusahaan multinasional di Tiongkok dan Thailand nan saat ini menggunakan AI, nan merupakan sepertiga dari proporsi di negara-negara industri.
Bank Dunia mengungkapkan kapabilitas komputasi merupakan kekuatan relatif, dengan Malaysia dan Indonesia telah melakukan investasi besar dalam pusat data.
Dalam konteks regional, Asia Timur dan Pasifik sebenarnya menampung 7% dari startup AI dunia dan menarik 8% pendanaan modal ventura, tetapi aktivitasnya sangat terkonsentrasi di China.
"Sebagian besar ekonomi lainnya-termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam-masing-masing mempunyai kurang dari 40 startup AI dan menarik pendanaan VC nan sangat terbatas, menunjukkan ruang nan signifikan untuk memperkuat penemuan dan komersialisasi AI praktis," paparnya.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·